R-na3Setya's Blog

Just another WordPress.com weblog

Curahan Hati


Malam ini lagi-lagi ku tak mengerti maksudmu…
Apakah pertanyaanku kemarin salah,,,

Hanya ingin mengukur kejujuranmu…
Hanya demi langkah yang tak ingin ku ulangi…

Terluka bukan yang ku harapkan…
Sehingga ku memilihmu,,,

Waktu yang panjang telah dilalui…
Waktu saling mengerti dan memahami…
Mungkin saat ini cobaan yang berat…
Dalam waktu singkat dengan cobaan yang berat…
Hingga air mata ini habis. .

YA ALLAH BERIKANLAH PETUNJUKMU…

16 Oktober 2012 Posted by | Uncategorized | Komentar Dimatikan

TUGU JOGYA


Tugu Yogyakarta adalah sebuah
tugu atau menara yang sering dipakai
sebagai simbol/lambang dari kota
Yogyakarta. Tugu ini dibangun oleh
Hamengkubuwana I, pendiri kraton
Yogyakarta. Tugu yang terletak di
perempatan Jl Jenderal Sudirman dan
Jl. Pangeran Mangkubumi ini,
mempunyai nilai simbolis dan
merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan,kraton Jogja dan gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta pada waktu itu menggunakan tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung merapi.

Tugu ini sekarang merupakan salah
satu objek pariwisata Yogya, dan
sering dikenal dengan istilah “tugu
pal putih” (pal juga berarti tugu),
karena warna cat yang digunakan
sejak dulu adalah warna putih. Tugu pal ini berbentuk bulat panjang dengan bola kecil dan ujung yang runcing di bagian atasnya. Dari kraton Yogyakarta kalau kita melihat ke arah utara, maka kita akan menemukan bahwa Jalan Malioboro, Jl. Mangkubumi, tugu ini, dan Jalan Monument Yogya Kembali akan membentuk satu garis lurus persis dengan arah ke puncak gunung Merapi.

10 Agustus 2012 Posted by | Uncategorized | Komentar Dimatikan

Rangkuman isi SAK-ETAP


BAB I Ruang Lingkup

Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik adalah entitas yang memiliki dua kriteria yang menentukan apakah suatu entitas tergolong entitas tanpa akuntabilitas publik (ETAP) yaitu:

1.      Tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan

     Suatu entitas dikatakan memiliki akuntabilitas yang signifikan jika:

  1. Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran atau entitas dalam proses pengajuan pernyataan pendaftaran pada otoritas pasar modal (BAPEPAM-LK) atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal. Oleh sebab itu Bapepam sendiri telah mengeluarkan surat edaran (SE) Bapepam-LK No. SE-06/BL/2010 tentang larangan penggunaan SAK ETAP bagi lembaga pasar modal, termasuk emiten, perusahaan publik, manajer investasi, sekuritas, asuransi, reksa dana, dan kontrak investasi kolektif.
  2. Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebaga fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan/atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana, dan bank investasi.

2.      Tidak menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statements) bagi pengguna eksternal.

     Contoh pengguna eksternal adalah:

  1. Pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha;
  2. Kreditur;
  3. Lembaga pemeringkat kredit.

Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifkan dapat menggunakan SAK ETAP jika otoritas berwenang membuat regulasi yang mengizinkan penggunaan SAK ETAP. Contohnya Bank Perkreditan Rakyat yang telah diijinkan oleh Bank Indonesia menggunakan SAK ETAP mulai 1 Januari 2010 sesuai dengan SE No. 11/37/DKBU tanggal 31 Desember 2009.

SAK-ETAP ini akan berlaku efektif per 1 January 2011 namun penerapan dini per 1 Januari 2010 diperbolehkan. Entitas yang laporan keuangannya mematuhi SAK ETAP harus membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved statement) atas kepatuhan tersebut dalam catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan tidak boleh menyatakan mematuhi SAK ETAP kecuali jika mematuhi semua persyaratan dalam SAK ETAP. Apabila perusahaan memakai SAK-ETAP, maka auditor yang akan melakukan audit di perusahaan tersebut juga akan mengacu kepada SAK-ETAP.

Mengingat kebijakan akuntansi SAK-ETAP di beberapa aspek lebih ringan daripada PSAK, maka terdapat beberapa ketentuan transisi dalam SAK-ETAP yang cukup ketat:

  1. Pada BAB 29 misalnya disebutkan bahwa pada tahun awal penerapan SAK-ETAP, yakni 1 January 2011
  2. Entitas yang memenuhi persyaratan untuk menerapkan SAK ETAP dapat menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK-ETAP, tetapi berdasarkan PSAK non-ETAP sepanjang diterapkan secara konsisten. Entitas tersebut tidak diperkenankan untuk kemudian menerapkan SAK ETAP ini untuk penyusunan laporan keuangan berikutnya.
  3. Per 1 Januari 2011, perusahaan yang memenuhi definisi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik harus memilih apakah akan tetap menyusun laporan keuangan menggunakan PSAK atau beralih menggunakan SAK-ETAP.
  4. Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian tidak memenuhi persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK-ETAP. Hal ini misalnya ada perusahaan menengah yang memutuskan menggunakan SAK-ETAP pada tahun 2011, namun kemudian mendaftar menjadi perusahaan public di tahun berikutnya. Entitas tersebut wajib menyusun laporan keuangan berdasarkan PSAK non-ETAP dan tidak diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP ini kembali.
  5. Entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK non-ETAP dalam menyusun laporan keuangannya dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK ETAP ini dalam menyusun laporan keuangan.

BAB 2 Konsep Dan Prinsip Pervasif

  1. Tujuan laporan keuangan

Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi posisi keuangan, kinerja keuangan, dan laporan arus kas suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak dalam posisi dapat meminta laporan keuangan khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu. Dalam memenuhi tujuannya, laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship) atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.

  1. Karakteristik kualitatif informasi dalam laporan keuangan
  2. Posisi keuangan
    1. Dapat Dipahami. Kualitas penting informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pengguna. Untuk maksud ini, pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi tersebut dengan ketekunan yang wajar.
    2. Relevan. Informasi memiliki kualitas relevan jika dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna dengan cara membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan, atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu.
    3. Materialitas. Informasi dipandang material jika kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna yang diambil atas dasar laporan keuangan.
    4. Keandalan. Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari kesalahan material dan bias, dan penyajian secara jujur apa yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan. Substansi Mengungguli Bentuk Transaksi, peristiwa dan kondisi lain dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya. Hal ini untuk meningkatkan keandalan laporan keuangan.
    5. Pertimbangan Sehat. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan pertimbangan yang diperlukan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aset atau penghasilan tidak disajikan lebih tinggi dan kewajiban atau beban tidak disajikan lebih rendah.
    6. Kelengkapan. Agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan mengakibatkan informasi menjadi tidak benar atau menyesatkan dan karena itu tidak dapat diandalkan dan kurang mencukupi ditinjau dari segi relevansi.
    7. Dapat Dibandingkan. Pengguna harus dapat membandingkan laporan keuangan entitas antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja keuangan. Pengguna juga harus dapat membandingkan laporan keuangan antar entitas untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relatif.
    8. Tepat Waktu. Tepat waktu meliputi penyediaan informasi laporan keuangan dalam jangka waktu pengambilan keputusan. Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya.
    9. Keseimbangan antara Biaya dan Manfaat Manfaat informasi seharusnya melebihi biaya penyediannya.

Posisi keuangan suatu entitas terdiri dari aset, kewajiban, dan ekuitas pada suatu waktu tertentu. Unsur laporan keuangan yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah aset, kewajiban, dan ekuitas. Unsur-unsur ini didefinisikan sebagai berikut:

  1. Aset adalah sumber daya yang dikuasai entitas sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh entitas.
  2. Kewajiban merupakan kewajiban masa kini entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu, yang penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya entitas yang mengandung manfaat ekonomi.
  3. Ekuitas adalah hak residual atas aset entitas setelah dikurangi semua kewajiban.
  4. Kinerja keuangan

Kinerja keuangan adalah hubungan antara penghasilan dan beban dari entitas sebagaimana disajikan dalam laporan laba rugi. Laba sering digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai dasar untuk pengukuran lain, seperti tingkat pengembalian investasi atau laba per saham. Unsur-unsur laporan keuangan yang secara langsung terkait dengan pengukuran laba adalah penghasilan dan beban. Penghasilan dan beban didefinisikan lebih lanjut sebagai berikut:

  1. Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama periode pelaporan dalam bentuk arus masuk atau peningkatan aset, atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.
  2. Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode pelaporan dalam bentuk arus keluar atau penurunan aset, atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak terkait dengan distribusi kepada penanam modal.

Pengakuan penghasilan dan beban dalam laporan laba rugi dihasilkan secara langsung dari pengakuan dan pengukuran aset dan kewajiban. Kriteria pengakuan penghasilan dan beban dibahas lebih lanjut dalam paragraf

  1. Pengakuan unsur-unsur laporan keuangan

Pengakuan unsur laporan keuangan merupakan proses pembentukan suatu pos dalam neraca atau laporan laba rugi yang memenuhi definisi suatu unsur dan memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang terkait dengan pos tersebut akan mengalir dari atau ke dalam entitas; dan
  2. Pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.

Kegagalan untuk mengakui pos yang memenuhi kriteria tersebut tidak dapat digantikan dengan pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan atau catatan atau materi penjelasan.

  1. Pengukuran unsur-unsur laporan keuangan

Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang yang digunakan entitas untuk mengukur aset, kewajiban, penghasilan dan beban dalam laporan keuangan. Proses ini termasuk pemilihan dasar pengukuran tertentu. Dasar pengukuran yang umum adalah biaya historis dan nilai wajar:

  1. Biaya historis. Aset adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar dari pembayaran yang diberikan untuk memperoleh aset pada saat perolehan. Kewajiban dicatat sebesar kas atau setara kas yang diterima atau sebesar nilai wajar dari aset non-kas yang diterima sebagai penukar dari kewajiban pada saat terjadinya kewajiban.
  2. Nilai wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu aset, atau untuk menyelesaikan suatu kewajiban, antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi dengan wajar.
  3. Prinsip pengakuan dan pengukuran berpengaruh luas (pervasif)

Persyaratan untuk pengakuan dan pengukuran aset, kewajiban, penghasilan dan beban dalam SAK ETAP didasarkan pada prinsip pervasif dari Kerangka Dasar Penyajian dan Pengukuran Laporan Keuangan.

  1. Dasar akrual

Entitas harus menyusun laporan keuangan, kecuali laporan arus kas, dengan menggunakan dasar akrual. Dalam dasar akrual, pos-pos diakui sebagai aset, kewajiban, ekuitas, penghasilan, dan beban (unsur-unsur laporan keuangan) ketika memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk pos-pos tersebut.

  1. Pengakuan dalam laporan keuangan
    1. Aset diakui dalam neraca jika kemungkinan manfaat ekonominya di masa depan akan mengalir ke entitas dan aset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. Aset tidak diakui dalam neraca jika pengeluaran telah terjadi dan manfaat ekonominya dipandang tidak mungkin mengalir ke dalam entitas setelah periode pelaporan berjalan. Sebagai alternatif transaksi tersebut menimbulkan pengakuan beban dalam laporan laba rugi.
    2. Kewajiban diakui dalam neraca jika kemungkinan pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban masa kini dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal.
    3. Pengakuan penghasilan merupakan akibat langsung dari pengakuan aset dan kewajiban. Penghasilan diakui dalam Laporan laba rugi jika kenaikan manfaat ekonomi di masa depan yang berkaitan dengan peningkatan aset atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur secara andal.
    4. Pengakuan beban merupakan akibat langsung dari pengakuan aset dan kewajiban. Beban diakui dalam laporan laba rugi jika penurunan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan penurunan aset atau peningkatan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur secara andal.
    5. Laba atau rugi merupakan selisih aritmatika antara penghasilan dan beban. Hal tersebut bukan merupakan suatu unsur terpisah dari laporan keuangan, dan prinsip pengakuan yang terpisah tidak diperlukan.
    6. Saling hapus

Saling hapus tidak diperkenankan atas aset dengan kewajiban, atau penghasilan dengan beban, kecuali disyaratkan atau diijinkan oleh SAK ETAP.

BAB 3 Penyajian Laporan Keuangan

  1. Penyajian wajar

Laporan keuangan menyajikan dengan wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas suatu entitas. Penyajian wajar mensyaratkan penyajian jujur atas pengaruh transaksi, peristiwa dan kondisi lain yang sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, kewajiban, penghasilan dan beban yang dijelaskan dalam Bab 2 Konsep dan Prinsip Pervasif.

  1. Kepatuhan terhadap SAK ETAP

Entitas yang laporan keuangannya mematuhi SAK ETAP harus membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved statement) atas kepatuhan tersebut dalam catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan tidak boleh menyatakan mematuhi SAK ETAP kecuali jika mematuhi semua persyaratan dalam SAK ETAP.

  1. Kelangsungan usaha

Pada saat menyusun laporan keuangan, manajemen entitas yang menggunakan SAK ETAP membuat penilaian atas kemampuan entitas melanjutkan kelangsungan usaha. Entitas mempunyai kelangsungan usaha kecuali jika manajemen bermaksud melikuidasi entitas tersebut atau menghentikan operasi, atau tidak mempunyai alternatif realistis kecuali melakukan hal-hal tersebut.

  1. Frekuensi pelaporan

Entitas menyajikan secara lengkap laporan keuangan (termasuk informasi komparatif) minimum satu tahun sekali. Ketika akhir periode pelaporan entitas berubah dan laporan keuangan tahunan telah disajikan untuk periode yang lebih panjang atau lebih pendek dari satu tahun, maka entitas mengungkapkan:

  1. Fakta tersebut;
  2. Alasan penggunaan untuk periode lebih panjang atau lebih pendek; dan
  3. Fakta bahwa jumlah komparatif untuk laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan laba rugi dan saldo laba, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan yang terkait adalah tidak dapat seluruhnya diperbandingkan.
  4. Penyajian yang konsisten

Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus konsisten kecuali:

  1. Terjadi perubahan yang signifikan atas sifat operasi entitas atau perubahan penyajian atau pengklasifikasian bertujuan menghasilkan penyajian lebih baik sesuai kriteria pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi dalam Bab 9 Kebijakan Akuntansi, Estimasi, dan Kesalahan; atau
  2. SAK ETAP mensyaratkan suatu perubahan penyajian.
  3. Informasi komparatif

Informasi harus diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya kecuali dinyatakan lain oleh SAK ETAP (termasuk informasi dalam laporan keuangan dan catatan atas laporan keuangan). Entitas memasukkan informasi komparatif untuk informasi naratif dan deskriptif jika relevanuntuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan.

  1. Materialitas dan agregasi

Pos-pos yang material disajikan terpisah dalam laporan keuangan sedangkan yang tidak material digabungkan dengan jumlah yang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis. Kelalaian dalam mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat suatu pos dianggap material jika, baik secara individual maupun bersama-sama, dapat mempengaruhi pengguna laporan dalam pengambilan keputusan ekonomi. Besaran dan sifat unsur tersebut dapat menjadi faktor penentu.

  1. Laporan keuangan lengkap

Laporan keuangan entitas meliputi:

  1. Neraca;
  2. Laporan laba rugi;
  3. Laporan perubahan ekuitas
  4. Laporan arus kas; dan
  5. Catatan atas laporan keuangan yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan informasi penjelasan lainnya.
  6. Identifikasi laporan keuangan

Entitas harus mengidentifikasikan secara jelas setiap komponen laporan keuangan termasuk catatan atas laporan keuangan. Jika laporan keuangan merupakan komponen dari laporan lain, maka laporan keuangan harus dibedakan dari informasi lain dalam laporan tersebut. Di samping itu, informasi berikut ini disajikan dan diulangi, bilamana perlu, pada setiap halaman laporan keuangan:

  1. Nama entitas pelapor dan perubahan dalam nama tersebut sejak laporan periode terakhir;
  2. Tanggal atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan, mana yang lebih tepat bagi setiap komponen laporan keuangan;
  3. Mata uang pelaporan, seperti didefinisikan dalam bab 25 mata uang pelaporan;
  4. Pembulatan angka yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan.

Entitas harus mengungkapkan hal berikut ini dalam catatan atas laporan keuangan:

  1. Domisili dan bentuk hukum entitas serta alamat kantornya yang terdaftar;
  2. Penjelasan sifat operasi dan aktivitas utamanya

BAB 4 Neraca

Informasi yang disajikan dalam neraca  minimal mencakup pos-pos berikut:

  1. kas dan setara kas;
  2. piutang usaha dan piutang lainnya;
  3. persediaan;
  4. properti investasi;
  5. aset tetap;
  6. aset tidak berwujud;
  7. utang usaha dan utang lainnya;
  8. aset dan kewajiban pajak;
  9. kewajiban diestimasi;
  10. ekuitas.

Entitas menyajikan pos, judul dan sub jumlah lainnya dalam neraca jika penyajian seperti itu relevan dalam rangka pemahaman terhadap posisi keuangan entitas. SAK ETAP tidak menentukan format atau urutan terhadap pos-pos yang disajikan.

 

BAB 5 Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi memasukkan semua pos penghasilan dan beban yang diakui dalam suatu periode kecuali SAK ETAP mensyaratkan lain. SAK ETAP mengatur perlakuan berbeda terhadap dampak koreksi atas kesalahan dan perubahan kebijakan akuntansi yang disajikan sebagai penyesuaian terhadap periode yang lalu dan bukan sebagai bagian dari laba atau rugi dalam periode terjadinya perubahan (lihat Bab 9 Kebijakan Akuntansi, Estimasi, dan Kesalahan). Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos sebagai berikut:

  1. Pendapatan;
  2. Beban keuangan;
  3. Bagian laba atau rugi dari investasi yang menggunakan metode ekuitas;
  4. Beban pajak;
  5. Laba atau rugi neto.

Entitas harus menyajikan pos, judul dan sub jumlah lainnya pada laporan laba rugi jika penyajian tersebut relevan untuk memahami kinerja keuangan entitas. Entitas tidak boleh menyajikan atau mengungkapkan pos pendapatan dan beban sebagai “pos luar biasa”, baik dalam laporan laba rugi maupun dalam catatan atas laporan keuangan.

BAB 6 Laporan Perubahan Ekuitas Dan Laporan Laba Rugi Dan Saldo Laba

Laporan perubahan ekuitas menyajikan laba atau rugi entitas untuk suatu periode, pos pendapatan dan beban yang diakui secara langsung dalam ekuitas untuk periode tersebut, pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan yang diakui dalam periode tersebut, dan (tergantung pada format laporan perubahan ekuitas yang dipilih oleh entitas) jumlah investasi oleh, dan dividen dan distribusi lain ke, pemilik ekuitas selama periode tersebut.

Entitas menyajikan laporan perubahan ekuitas yang menunjukkan:

  1. Laba atau rugi untuk periode;
  2. Pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam ekuitas;
  3. Untuk setiap komponen ekuitas, pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan yang diakui sesuai bab 9 kebijakan akuntansi, estimasi, dan kesalahan;
  4. Untuk setiap komponen ekuitas, suatu rekonsiliasi antara jumlah tercatat awal dan akhir periode, diungkapkan secara terpisah perubahan yang berasal dari:
    1. Laba atau rugi;
    2. Pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam ekuitas;
    3. Jumlah investasi, dividen dan distribusi lainnya ke pemilik ekuitas, yang menunjukkan secara terpisah modal saham, transaksi saham treasuri, dan dividen serta distribusi lainnya ke pemilik ekuitas, dan
    4. Perubahan kepemilikan dalam entitas anak yang tidak mengakibatkan kehilangan pengendalian.

Laporan laba rugi dan saldo laba menyajikan laba atau rugi entitas dan perubahan saldo laba untuk suatu periode pelaporan. Paragraf 3.13 mengijinkan entitas untuk menyajikan laporan laba rugi dan saldo laba menggantikan laporan laba rugi dan laporan perubahan ekuitas jika perubahan pada ekuitas hanya berasal dari laba atau rugi, pembayaran dividen, koreksi kesalahan periode lalu, dan perubahan kebijakan akuntansi.

BAB 7 Laporan Arus Kas

Bab ini mengatur informasi yang disajikan dalam laporan arus kas dan bagaimana penyajiannya. Laporan arus kas menyajikan informasi perubahan historis atas kas dan setara kas entitas, yang menunjukkan secara terpisah perubahan yang terjadi selama satu periode dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

BAB 8 Catatan Atas Laporan Keuangan

Bab ini mengatur prinsip yang mendasari informasi yang disajikan dalam catatan atas laporan keuangan dan bagaimana penyajiannya. Catatan atas laporan keuangan berisi informasi sebagai tambahan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan memberikan penjelasan naratif atau rincian jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan dan informasi pos-pos yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.

Catatan atas laporan keuangan harus:

  1. Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi tertentu yang digunakan sesuai dengan paragraf 8.5 dan 8.6;
  2. Mengungkapkan informasi yang disyaratkan dalam sak etap tetapi tidak disajikan dalam laporan keuangan; dan
  3. Memberikan informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan, tetapi relevan untuk memahami laporan keuangan.

Catatan atas laporan keuangan disajikan secara sistematis sepanjang hal tersebut praktis. Setiap pos dalam laporan keuangan merujuk-silang ke informasi terkait dalam catatan atas laporan keuangan. Secara normal urutan penyajian catatan atas laporan keuangan adalah sebagai berikut:

  1. Suatu pernyataan bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai dengan SAK ETAP.
  2. Ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan.
  3. Informasi yang mendukung pos-pos laporan keuangan, sesuai dengan urutan penyajian setiap komponen laporan keuangan dan urutan penyajian pos-pos tersebut.
  4. Pengungkapan lain.

 

BAB 9 Kebijakan Dan Estimasi Akuntansi Dan Kesalahan

Bab ini memberikan panduan untuk memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi yang digunakan dalam menyusun laporan keuangan. Bab ini juga mengatur perubahan estimasi akuntansi dan koreksi kesalahan periode lalu.

BAB 10 Investasi Pada Efek Tertentu

Bab ini mengatur penerapan akuntansi nilai wajar untuk efek utang dan efek ekuitas baik yang dimaksudkan oleh pemiliknya untuk diperdagangkan, efek utang yang dimaksudkan untuk dimiliki hingga jatuh waktu maupun tidak untuk keduanya. Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek.

  1. Efek utang adalah efek yang menunjukkan hubungan hutang piutang antara kreditor dengan entitas yang menerbitkan efek.
  2. Efek ekuitas adalah efek yang menunjukkan hak kepemilikan atas suatu ekuitas, atau hak untuk memperoleh (misalnya: waran, opsi beli) atau hak untuk menjual (misalnya opsi jual) kepemilikan tersebut dengan harga yang telah atau akan ditetapkan.

Bab ini harus diterapkan untuk akuntansi dan pelaporan investasi efek ekuitas yang nilai wajarnya tersedia dan untuk semua investasi efek utang, kecuali investasi pada entitas asosiasi, joint venture dan entitas ana

BAB 11 Persediaan

Bab ini mengatur prinsip-prinsip pengakuan dan pengukuran persediaan. Persediaan adalah aset:

  1. Untuk dijual dalam kegiatan usaha normal;
  2. Dalam proses produksi untuk kemudian dijual; atau
  3. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.

Bab ini diterapkan untuk semua jenis persediaan, kecuali:

  1. Persediaan dalam proses (work in progress) dalam kontrak konstruksi termasuk kontrak jasa yang terkait secara langsung (lihat Bab 20 Pendapatan);
  2. Efek tertentu (lihat Bab 10 Investasi pada Efek Tertentu).

BAB 12 Investasi Pada Entitas Asosiasi Dan Entitas Anak

Bab ini harus diterapkan untuk investasi pada entitas asosiasi dan entitas anak. Bab ini tidak mengatur:

  1. Investasi pada joint venture;
  2. Hak paten, merek dagang, dan aset yang serupa;
  3. Sewa pembiayaan

BAB 13 Investasi Pada Joint Venture

Bab ini diterapkan untuk investasi pada joint venture. Joint venture adalah perjanjian kontraktual dimana dua pihak atau lebih menjalankan aktivitas ekonomi yang menjadi subyek dari pengendalian bersama. Joint venture dapat berbentuk pengendalian bersama operasi, pengendalian bersama aset, dan pengendalian bersama entitas. Pengendalian bersama adalah kesepakatan kontraktual berbagi pengendalian atas suatu aktivitas ekonomi, dan ada hanya jika keputusan strategis keuangan dan operasi terkait dengan aktivitas tersebut mensyaratkan persetujuan pihak-pihak yang berbagi pengendalian (venturer).

BAB 14 Properti Investasi

Bab ini diterapkan untuk akuntansi untuk investasi pada tanah dan bangunan yang memenuhi definisi properti investasi dalam paragraf 14.2. Properti investasi adalah properti (tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau kedua-duanya) yang dikuasai (oleh pemilik atau lessee melalui sewa pembiayaan) untuk menghasilkan sewa atau untuk kenaikan nilai atau kedua-duanya, dan tidak untuk:

  1. Digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau untuk tujuan administratif; atau
  2. Dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari.

BAB 15 Aset Tetap

Bab ini diterapkan untuk akuntansi atas aset tetap. Aset tetap adalah aset berwujud yang:

  1. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk disewakan ke pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan
  2. Diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode. Aset tidak berwujud tidak termasuk hak atas mineral dan cadangan mineral, misalnya minyak, gas alam dan sumber daya yang tidak dapat diperbarui lainnya.

BAB 16 Aset Tidak Berwujud

Bab ini diterapkan untuk akuntansi untuk semua aset tidak berwujud kecuali aset tidak berwujud yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha normal (lihat Bab 11 Persediaan dan Bab 20 Pendapatan) Aset tidak berwujud adalah aset nonmoneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik. Suatu aset dapat diidentifikasikan jika:

  1. Dapat dipisahkan, yaitu kemampuannya untuk menjadi terpisah atau terbagi dari entitas dan dijual, dialihkan, dilisensikan, disewakan atau ditukarkan melalui suatu kontrak terkait aset atau kewajiban secara individual atau secara bersama; atau
  2. Muncul dari hak kontraktual atau hak hukumnya lainnya, terlepas apakah hak tersebut dapat dialihkan atau dapat dipisahkan dari entitas atau dari hak dan kewajiban lainnya.

Aset tidak berwujud tidak termasuk:

  1. Efek (surat berharga), atau
  2. Hak atas mineral dan cadangan mineral, misalnya minyak, gas alam dan sumber daya yang tidak dapat diperbarui lainnya

BAB 17 Sewa

Bab ini mencakup akuntansi untuk semua sewa, kecuali:

  1. Sewa untuk mengekplorasi atau menggunakan mineral, minyak bumi, gas alam dan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui lainnya;
  2. Perjanjian lisensi seperti film, rekaman video, karya panggung, manuskrip (karya tulis), hak paten, dan hak cipta (lihat Bab 16 Aset Tidak Berwujud);

BAB 18 Kewajiban Diestimasi Dan Kontinjensi

Bab ini diterapkan untuk semua kewajiban diestimasi (kewajiban yang waktu atau jumlahnya belum pasti), kewajiban kontijensi dan aset kontijensi, kecuali kewajiban estimasi yang diatur dalam Bab lain, yaitu:

  1. Sewa (Bab 17 Sewa);
  2. Kontrak konstruksi (Bab 20 Pendapatan);
  3. Kewajiban imbalan kerja (Bab 23 Imbalan Kerja);
  4. Kewajiban pajak penghasilan (Bab 24 Pajak Penghasilan).

Persyaratan dalam Bab ini tidak berlaku untuk kontrak eksekutori kecuali kontrak tersebut merupakan kontrak memberatkan. Kontrak eksekutori adalah kontrak dalam hal tidak ada satu pihak telah melakukan kewajibannya atau kedua pihak secara sebagian telah melakukan kewajibannya secara seimbang. Istilah “penyisihan” seringkali digunakan dalam konteks seperti penyusutan, penurunan nilai aset, dan tagihan tidak tertagih. Hal tersebut merupakan penyesuaian atas nilai tercatat aset, bukan pengakuan kewajiban, sehingga tidak diatur dalam Bab ini.

BAB 19 Ekuitas

Bab ini mengatur akuntansi ekuitas untuk:

  1. Entitas Perorangan;
  2. Persekutuan Perdata;
  3. Firma;
  4. Commanditaire Vennootschap (CV);
  5. Perseroan Terbatas;
  6. Koperasi.

Ekuitas sebagai bagian hak pemilik dalam entitas harus dilaporkan sedemikian rupa sehingga memberikan informasi mengenai sumbernya secara jelas dan disajikan sesuai dengan peraturan perundangan dan akta pendirian yang berlaku.

BAB 20 Pendapatan

Bab ini diterapkan dalam akuntansi untuk pendapatan yang muncul sebagai akibat dari transaksi atau kejadian berikut:

  1. Penjualan barang (baik diproduksi oleh entitas untuk tujuan produksi atau dibeli untuk dijual kembali);
  2. Pemberian jasa;
  3. Kontrak konstruksi;
  4. Penggunaan aset entitas oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti atau dividen.

Pendapatan atau penghasilan lain yang muncul dari beberapa transaksi dan kejadian lain berikut ini diatur dalam Bab lain:

  1. Perjanjian sewa (lihat Bab 17 Sewa);
  2. Dividen yang timbul dari investasi yang dihitung dengan menggunakan metode ekuitas (lihat Bab 12 Investasi pada Entitas Asosiasi dan Entitas Anak);
  3. Perubahan nilai wajar investasi pada efek tertentu, atau pelepasannya (lihat Bab 10 Investasi Pada Efek Tertentu).

BAB 21 Biaya Pinjaman

Bab ini mengatur akuntansi untuk biaya pinjaman. Biaya pinjaman adalah bunga dan biaya lainnya yang timbul dari kewajiban keuangan suatu entitas. Biaya pinjaman mencakup:

  1. Bunga untuk cerukan bank dan pinjaman jangka pendek dan jangka panjang;
  2. Amortisasi diskonto atau premium yang terkait dengan pinjaman;
  3. Amortisasi biaya tambahan yang timbul sehubungan dengan proses perjanjian peminjaman;
  4. Beban pembiayaan sesuai dengan sewa pembiayaan yang diakui sesuai dengan bab 17 sewa;
  5. Perbedaan nilai tukar yang timbul dari pinjaman dalam mata uang asing dimana perbedaan ini dianggap sebagai penyesuaian terhadap biaya bunga.

BAB 22 Penurunan Nilai Aset

Kerugian penurunan nilai terjadi ketika nilai tercatat aset melebihi jumlah yang dapat diperoleh kembali. Bab ini harus diterapkan dalam akuntansi untuk penurunan nilai semua aset, kecuali aset yang muncul dari imbalan kerja (lihat Bab 23 Imbalan Kerja).

BAB 23 Imbalan Kerja

Imbalan kerja adalah semua bentuk imbalan yang diberikan oleh entitas sebagai pertukaran atas jasa yang diberikan oleh pekerja, termasuk direktur dan manajemen. Bab ini diterapkan untuk empat jenis imbalan kerja:

  1. Imbalan kerja jangka pendek adalah imbalan kerja (selain pesangon pemutusan kerja) yang jatuh tempo seluruhnya dalam waktu 12 bulan setelah akhir periode pekerja memberikan jasanya.
  2. Imbalan pascakerja adalah imbalan kerja (selain pesangon pemutusan kerja) yang terutang setelah pekerja menyelesaikan masa kerjanya.
  3. Imbalan kerja jangka panjang lainnya adalah imbalan kerja (selain imbalan pascakerja dan pesangon pemutusan kerja) yang tidak seluruhnya jatuh tempo dalam waktu 12 bulan setelah pekerja memberikan jasanya; dan
  4. Pesangon pemutusan kerja adalah imbalan kerja yang terutang akibat:
    1. Keputusan entitas untuk memberhentikan pekerja sebelum usia pensiun normal, atau
    2. Keputusan pekerja menerima tawaran untuk mengundurkan diri secara sukarela dengan imbalan tertentu.

BAB 24 Pajak Penghasilan

Bab ini mengatur akuntansi untuk pajak penghasilan. Untuk tujuan ini, pajak penghasilan termasuk seluruh pajak domestik dan luar negeri sebagai dasar penghasilan kena pajak. Pajak penghasilan juga termasuk pajak, misalnya pemungutan dan pemotongan pajak, yang terutang oleh entitas anak, entitas asosiasi atau joint venture atas distribusi ke entitas pelaporan.

BAB 25 Mata Uang Pelaporan

Bab ini diterapkan untuk semua entitas yang akan atau telah menggunakan mata uang selain rupiah sebagai mata uang pelaporan. Mata uang fungsional adalah mata uang utama dalam arti substansi ekonomi, yaitu mata uang utama yang dicerminkan dalam kegiatan operasi entitas. Mata uang pelaporan adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan. Mata uang pencatatan adalah mata uang yang digunakan oleh entitas untuk membukukan transaksi.

BAB 26 Transaksi Dalam Mata Uang Asing

Bab ini diterapkan dalam akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing. Transaksi mata uang asing adalah transaksi yang didenominasi atau harus diselesaikan dalam mata uang asing, yang meliputi transaksi yang timbul ketika entitas:

  1. Membeli atau menjual barang atau jasa yang harganya didenominasi dalam mata uang asing;
  2. Meminjam atau meminjamkan dana atas sejumlah utang atau piutang yang didenominasi dalam mata uang asing;
  3. Memperoleh atau melepas aset, atau terjadinya atau menyelesaikan kewajiban, yang didenominasi dalam mata uang asing.

BAB 27 Peristiwa Setelah Akhir Periode Pelaporan

Bab ini mendefinisikan peristiwa setelah akhir tanggal pelaporan dan menentukan prinsip-prinsip pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan peristiwa tersebut.Peristiwa setelah akhir periode pelaporan adalah peristiwa-peristiwa, baik menguntungkan maupun tidak menguntungkan, yang terjadi setelah akhir periode pelaporan sampai dengan tanggal penyelesaian laporan keuangan. Ada dua jenis peristiwa setelah akhir periode pelaporan, yaitu:

  1. Peristiwa yang memberikan bukti atas suatu kondisi yang telah terjadi pada akhir periode pelaporan (peristiwa setelah akhir periode pelaporan yang memerlukan penyesuaian).
  2. Peristiwa yang mengindikasikan timbulnya suatu kondisi setelah akhir periode pelaporan (peristiwa setelah akhir periode pelaporan yang tidak memerlukan penyesuaian).

BAB 28 Pengungkapan Pihak-Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa

Bab ini mensyaratkan entitas untuk memberikan pengungkapan yang diperlukan dalam laporan keuangannya untuk memberi perhatian pada kemungkinan posisi keuangan dan laba atau rugi entitas telah terpengaruh oleh adanya pihakpihak yang mempunyai hubungan istimewa serta transaksi dan saldo dengan pihak-pihak tersebut. Dalam mempertimbangkan setiap kemungkinan hubungan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, entitas harus menilai dari substansi hubungan dan bukan semata-mata dari bentuk hukum.

Dalam konteks SAK ETAP, pihak-pihak berikut tidak dianggap sebagai pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa:

  1. Dua entitas yang memiliki satu direktur atau anggota personel manajemen kunci secara umum, tetapi tidak memenuhi ketentuan (d) dan (f) dalam definisi “pihak yang mempunyai hubungan istimewa” (lihat daftar istilah).
  2. Dua venturer karena mereka berbagi pengendalian bersama atas joint venture.
  3. Pihak-pihak berikut dalam pelaksanaan urusan normal dengan entitas (meskipun pihak-pihak tersebut dapat memengaruhi kebebasan entitas atau ikut serta dalam proses pengambilan keputusan):
    1. Penyandang dana;
    2. Serikat dagang;
    3. Entitas pelayanan umum; dan
    4. Departemen dan instansi pemerintah.
    5. Pelanggan, pemasok, pemilik hak waralaba (franchisor), distributor atau agen umum yang mana entitas mengadakan transaksi usaha dengan volume signifikan, semata-mata berdasar atas akibat ketergantungan ekonomi.

BAB 29 Ketentuan Transisi

Entitas menerapkan SAK ETAP secara retrospektif, namun jika tidak praktis, maka entitas diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP secara prospektif. Entitas yang menerapkan secara prospektif dan sebelumnya telah menyusun laporan keuangan maka:

  1. Mengakui semua aset dan kewajiban yang pengakuannya dipersyaratkan dalam SAK ETAP;
  2. Tidak mengakui pos-pos sebagai aset atau kewajiban jika SAK ETAP tidak mengijinkan pengakuan tersebut;
  3. Mereklasifikasikan pos-pos yang diakui sebagai suatu jenis aset, kewajiban atau komponen ekuitas berdasarkan kerangka pelaporan sebelumnya, tetapi merupakan jenis aset, kewajiban, atau komponen ekuitas yang berbeda berdasarkan SAK ETAP;
  4. Menerapkan SAK ETAP dalam pengukuran seluruh aset dan kewajiban yang diakui.

Kebijakan akuntansi yang digunakan oleh entitas pada saldo awal neracanya berdasarkan SAK ETAP mungkin berbeda dari yang digunakan untuk tanggal yang sama dengan menggunakan kerangka pelaporan keuangan sebelumnya. Hasil penyesuaian yang muncul dari transaksi, kejadian atau kondisi lainnyasebelum tanggal efektif SAK ETAP diakui secara langsung pada saldo laba pada tanggal penerapan SAK ETAP.

Pada tahun awal penerapan SAK ETAP, entitas yang memenuhi persyaratan untuk menerapkan SAK ETAP dapat menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK ETAP, tetapi berdasarkan PSAK non-ETAP sepanjang diterapkan secara konsisten. Entitas tersebut tidak diperkenankan untuk kemudian menerapkan SAK ETAP ini untuk penyusunan laporan keuangan berikutnya. Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian tidak memenuhi persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP. Entitas tersebut wajib menyusun laporan keuangan berdasarkan PSAK non- ETAP dan tidak diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP ini kembali sesuai dengan paragraf 29.4 di atas.

Entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK non-ETAP dalam menyusun laporan keuangannya dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK ETA ini dalam menyusun laporan keuangan. Entitas tersebut menerapkan persyaratan dalam paragraf 29.1 – 29.3.

BAB 30 Tanggal Efektif

SAK ETAP diterapkan untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011. Penerapan dini diperkenankan. Jika SAK ETAP diterapkan dini, maka entitas harus menerapkan SAK ETAP untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2010.

5 April 2012 Posted by | Uncategorized | Komentar Dimatikan

contoh Latar belakang proposal SKripsi


BAB I
PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Pendidikan merupakan cara untuk mencerdaskan bangsa yang sesuai dengan pembukaan Undang Undang Dasar 1945 alinea ke-4 serta ingin mencapai tujuan pendidikan nasional. Perkembangan jaman saat ini menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas sehingga mampu bersaing dengan negara lain yang telah maju. Pendidikan mepunyai peranan yang sangat peniting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan yang berkualiats akan berpengaruh pada kemajuan diberbagai bidang. Di samping mengusahakan pendidikan yang berkualitas, pemerintah perlu melakuakn perataan pendidikan dasar badi setiap Warga Negara Indonesia, agar mampu berperan serta dalam memajukan kehidupan bangsa.

Pendidian merupakan salah satu sektor yang paling penting dalam pembangunan nasional. Hal ini dikarenakan melalui sektor pendidikan dapat dibentuk manusia yang berkualitas, seperti yang disebutkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 bahwa:

Pendidkan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak seperti peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

Demikian juga halnya dengan dunia pendidikan yang terdapat banyak persaingan-persaingan siswa dalam belajar. Hal tersebut terjadi karena para siswa menginginkan presatsi belajar yang lebih baik dari teman-temannya. Prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai siswa selama mengikuti pelajaran pada periode tertentu dalam suatu lembaga pendidikan di mana hasilnya dinyatakan dalam bentuk angka atau simbol lainnya.

Prestasi belajar akuntansi adalah suatu kemampuan siswa dalam menguasai pengetahuan akuntansi, sikap, ketrampilan, baik mempelajari, memahami dan mampu mengerjakan atau menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan kauntansi ditunjukkan dengan nilai atau angka yang diberikan oleh guru.

Prestasi belajar akuntansi yang diperoleh siswa dapat diukur secara langsung dengan test dan dapt dihitung hasilnya. Prestasi belajar akuntansi tidak hanya memberikan informasi mengenai kemnajuan siswa umum tentang kemajuan kegiatan pendidikan di sekolah dalam mata pelajaran akuntansi.

Dalam proses belajar mengajar akuntansi kelas XI SMA Negeri 1 Bambanglipuro mengalami masalah dalam belajar yang berakibat pada rendahnya prestasi belajar akuntansi. Meskipun tidak semua siswa mengalami hal tersebut. Karena setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Untuk meningkatkan prestasi belajar akuntansi yang sesuai dengan harapan, pihak sekolah telah mengupayakan berbagai usaha. Pihak sekolah telah berusaha meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar. Hali ini dilakukan dengan meningkatkan kemampuan akademis guru, kemampuan manajerial, kemampuan memberikan materi dan kemampuan berorientasi kepada siswa. Namun terkadang prestasi belajar akuntansi yang dicapai belum sesuai dengan yang diharapkan. Untuk mengetahui hal tersebut perlu ditelusuri faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar akuntansi.

Prestasi belajar akuntansi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar akauntansi secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: Pertama, faktor intern atau berasal dari dalam diri siswa meliputi fakrtor jasmani dan psikologis. Faktor jasmani terdiri dari kesehatan dan cacat tubuh, sedangkan faktor psikologis terdiri dari intelegensi, perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan dan kelelahan. Kedua, faktor ekstern atau faktor yang berasal dari luar diri siswa, antara lain: factor keluarga meliputi cara orangtua mendidik, sosal ekonomi, faktor sekolah dan faktor masyarakat.

Siswa sebagai faktor utama dalam kegiatan belajar di sekolah. Masing-masing siswa mempunyai karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya, sehingga menyebabkan perbedaan dalam meningkatkan prestasi belajar.  Faktor-faktor tersebut mengakibatkan munculnya siswa yang memiliki prestasi tinggi, sedang atau rendah. Demikian pula pada SMA Negeri 1 Bambanglipuro, prestasi belajar akuntansi yang dimiliki siswa kelas XI jurusan IPS juga berbeda-beda. Salah satu faktor yang diduga berpengaruh besar yaitu status sosial ekonomi. Status sosial ekonomi orang tua berperan penting dalam mendukung prestasi belajar akuntansi siswa. Menurut Dimyati Mahmud (1998:101), “Status sosial ekonomi orang tua meliputi tingkat pendapatan, tingkat penghasilan, jenis pekerjaan, jabatan orangtua, fasilitas khusus dan barang-barang berharga yang ada di rumah seperti radio, tv, almari es, dll. Di SMA Negeri 1 Bambanglipuro menurut observasi masih terdapat siswa yang berasal dari golongan status sosial ekonomi rendah. Hal ini dapat dilihat dari pendidikan orang tua dan penghasilan orangtua. Sebagian besar pekerjaan oaring tua siswa kelas XI jurusan IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro sebagai buruh, petani atau pegawai swasta, meskipun juga ada yang berasal dari golongan status sosial ekonomi tinggi. Siswa yang berasal dari golongan sosial ekonomi tinggi akan banyak mendapatkan fasilitas, sarana dan perhatian dalam belajarnya. Adanya fasilitas belajar mengajar yang memadai akan mendukung proses belajar siswa sehingga memungkinkan prestasi belajar siswa tinggi. Sebaliknya siswa yang berasal dari golongan status sosial ekonomi rendah, memungkinkan anak mengalami kesulitan-kesulitan dalam belajar karena kurangya dukungan moral maupun material orang tua sehingga ada kecenderungan prestasi belajar anaknya rendah.

Faktor dari luar siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar akuntansi adalah lingkungan belajar siswa. Lingkungan belajar siswa baik yang bersifat fisik maupun sosial termasuk di dalamya yaitu lingkuang keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan alam, lingkungan sekolah mempunyai peran yang besar dalam mendukung proses belajar di rumah. Tersedianya tempat belajar khusus, alat-alat belajar, penerangan yang cukup, perhatian dari orang tua, serta suasana rumah yang tenang akan memberikan pengaruh positif terhadap proses belajar siswa. Siswa akan mempunyai semangat dan tenang dalam belajar sehingga prestasi belajarnya akan tinggi.

Prestasi belajar akuntansi tidak akan pernah dihasilkan oleh seseorang bila orang tersebut tidak melakukan usaha untuk memperbaikinya. Sehingga untuk meningkatkan prestasi tersebut pihak sekolah telah berupa dalam berbagai hal. Namun upaya tersebut berbenturan dengan alokasi waktu yang di tetapkan untuk pelajaran akuntansi pada sekolah SMA. Pada SMA 1 Bambanglipuro alokasi waktu yang diberikan untuk pelajaran akuntansi bagi kelas XI IPS adalah 4 jam pelajaran utuk setiap minggu. Waktu tersebut dirasa sangat kurang dibandingkan dengan materi yang harus dikuasai para siswa.

Frekuensi belajar merupakan suatu hal yang penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, khususnya dalam mata pelajaran akuntansi. Dalam proses belajar mengajar, tanpa adaya keaktifan anak belajar tidak akan mencapai hasil yang ma ksimal. Sering dijumpai pada individu yang malas belajar jika tidak ada ulangan atau jika tidak ada tugas dari sekolah. Di samping itu, individu yang kurang mempunyai keinginan untuk mengembangkan potensi kreatif yang ada dalam dirinya. Hal ini tampak terjadi pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Siswa kurang efektif dan responsif terhadap materi yang disampaikan. Kondisi semacam ini menjadikan siswa lebih banyak tergantung pada pendidik.

 

Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Antara Status Sosial Ekonomi Orang Tua Dan Lingkungan Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro Tahun Ajaran  2011/2012”.

 

B.     Identifikasi Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah yang dikemukakan diatas, dapat diidentifikasikan berbagai masalah sebagai berikut:

  1. Prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran akuntansi belum seperti yang diharapkan.
  2. Status sosial ekonomi siswa yang rendah dapat mempengaruhi prestasi belajar akuntansi.
  3. Kurangnya sarana dan prasaranan belajar sehingga siswa tidak bersemangant dalam belajar.
  4. Terbatasnya waktu mata pelajaran akuntansi
  5. Belum diketahui lingkungan belajar siswa kelas XI jurusan IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro dalam mata pelajaran akuntansi

 

 

C.    Pembatasan Masalah

Mengingat luasnya permasalahn yang berhubungan dengan prestasi belajar akuntansi, maka peneliti perlu membuat pembatasan masalah agar hasil penelitian dan pembatasan dapat lebih terfokus dan mendalam pada permasalahan yang diangkat. Secara umum prestasi belajar akuntansi siswa dipengaruhi dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi faktor fisiologis psikoligis. Sedangkan faktor eksternal meliputi faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat. Karena banyaknya faktor yang mempengaruhi prestasi belajar akuntansi, maka masalah utama yang akan diteliti dalam penelitian ini dibatasi pada faktor prestasi belajar akuntansi dengan satus sosial ekonomi dan lingkungan belajar siswa. Peneliti mengambil fokus mata pelajaran akuuntansi dan mengambil populasi siswa kelas XI jurusan IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro.

 

D.    Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Bagaimana Pengaruh Antara Status Sosial Ekonomi Orangtua Dengan Prestasi Belajara Akuntansi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro?
  2. Bagaimana Pengaruh Antara Lingkungan Belajar Dengan Prestasi Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro?
  3. Bagaimana Pengaruh Antara Status Sosial Ekonomi Orangtua Dan Lingkuang Belajar Dengan Prestasi Belajara Akuntansi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro?

 

E.     Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang diharapkan sesuai dengan perumusan masalah di atas, maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui:

  1. Pengaruh Status Sosial Ekonomi Orang Tua dengan Prestasi Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro.
  2. Pengaruh Antara Lingkungan Belajar Dengan Prestasi Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro.
  3. Pengaruh Antara Status Sosial Ekonomi Orangtua Dan Lingkuang Belajar Dengan Prestasi Belajara Akuntansi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro.

 

F.     Manfaat penelitian

Dari berbagai hal yang telah diungkapkan di atas, peneliti diharapkan dapat meberikan manfaat sebagai berikut:

1. Secara Teoritin

  • Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam rangka mendukung teori tentang “Pengaruh Antara Status Sosial Ekonomi Orangtua Dan Lingkuang Belajar Dengan Prestasi Belajara Akuntansi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro”
  • Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam memperluas pengetahuan di bidang akuntansi terutama dalam bidang pendidikan yang terkait dengan “Pengaruh Antara Status Sosial Ekonomi Orangtua Dan Lingkuang Belajar Dengan Prestasi Belajara Akuntansi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro”. Wawasan pengetahuan ini juga dapat menjadi wacana pengetahuan bagi mahasiswa di lingkungan pendidikan, khususnya bidang  pendidikan akuntansi dalam mempelajari akuntansi di Universitas Negeri Yogyakarta.
  • Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan peneliti-peneliti selanjutnya yang mempunyai obyek penelitian yang sama.

2. Secara Praktis

  • Bagi peneliti. Sebagai wahana untuk latihan dan studi banding antara teori yang sudah didapat di bangku kuliah dengan praktek yang sebenarnya diterapkan dalam dunia pendidikan, sehingga nantinya dapat dijadikan bekal dalam memasuki dunia kerja. Selain itu dengan penelitian ini peneliti dapat menambah pengetahuan tentang “Pengaruh Antara Status Sosial Ekonomi Orangtua Dan Lingkuang Belajar Dengan Prestasi Belajara Akuntansi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro”.
  • Bagi Pihak Sekolah. Hasil penelitia ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengelola pendidikan dan pengajaran agar lebih mengerti dan memehami faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar.
  • Bagi universitas Hasil penelitian diharapkan dapat memberiakn sumbangan bagi ilmu pengetahuan dan pendidikan.  Dalam hasil penelitian ini diharapkan dapat memberiakn masukan yang berarti dan dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya.
  • Bagi Mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian yang dikhususkan mempelajari “Pengaruh Antara Status Sosial Ekonomi Orangtua Dan Lingkuang Belajar Dengan Prestasi Belajara Akuntansi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro”. Dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh mahasiswa sebagai wahana penerapan ilmu yang diperoleh selama kuliah dan dapat memperbanyak ilmu pengetahuan yang didapat  sehingga dapat menjadi bekal dimasa depan.

 

 

 

 

 

 

 

14 Januari 2012 Posted by | Uncategorized | Komentar Dimatikan

CONTOH RPP


                                                   RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata pelajaran             :  Kompetensi Kejuruan

Kelas/ Semester           :  X/1

Pertemuan Ke             : 1

Alokasi Waktu            :  4 x 45 menit

Standar Kompetensi   : Mengerjakan persamaan Dasar Akuntansi

Kompetensi Dasar       : Memahami Dasar-dasar Akuntansi

Indikator                     :

  1. Mengidentifikasi pengertian akuntansi
  2. Mengidentifikasi  spesialisasi dalam bidang akuntansi
  3. Mendiskripsikan tugas-tugas jabatan dalam bidang akuntansi
  4. Mengidentifikasi pihak-pihak yang membutuhkan informasi akuntansi
  5. Mengidentifikasi prinsip-prinsip dalam akuntansi.

A.    Tujuan Pembelajaran

  1. Dapat menjelaskan pengertian akuntansi dengan benar
  2. Dapat mengidentifikasi  spesialisasi dalam bidang akuntansi
  3. Dapat mendiskripsikan tugas-tugas jabatan dalam bidang akuntansi
  4. Dapat mengidentifikasi pihak-pihak yang membutuhkan informasi akuntansi
  5. Dapat mengidentifikasi prinsip-prinsip dalam akuntansi.

B.     Materi Ajar

  1. Pengertian akuntansi
  2. Bidang spesialisasi akuntansi
  3. Jabatan dalam bidang akuntansi
  4. Pemakai informasi akuntansi
  5. Prinsip-prinsip akuntansi

C.    Metode Pembelajaran

  1. Ceramah
  2. Diskusi

D.    Langkah-langkah Pembelajaran

1. Kegiatan awal :

  • Berdo’a
  •  Memberi gambaran  tentang materi yang akan disampaiakan (apresepsi)
  • Menyampaikan kompetensi dasar yang aksan disampaika

2. Kegiatan inti :

  • Membagi siswa dalam beberapa kelompok dan memberikan permasalahan yang berbeda-beda pada masing-masing kelompok.
  •  Siswa mendiskusikan permasalahan yang diberikan pada kelompknya masing-masing.
  •  Setiap kelompok melakukan presentasi singkat di depan kelas dan kelompok lain bisa mengajukan pertanyaan

3. Kegiatan Akhir :

  • Memberikan hasil analisa dan kesimpulan dari hasil diskusi
  •  Menyampapaikan kompetensi berikutnya
  •  Penugasan
  •  Menutup kegiatan pembelajaran
  • Berdo’a dan salam

E.     Peralatan dan Bahan

  1. Peralatan      : Alat tulis, Kotak kelompok akun, kartu nama-nama akun
  2. Bahan           : Modul, LKS

F.     Sumber Buku

  1. Hendi, Somantri. 2004. “Memahami Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa dan Dagang SMK.Bandung:Armico
  2. Toto, Sucipto. dkk. 2009.  ”Akuntansi 1 Untuk SMK Kelas X”. Jakarta: Yudhistira
  3. Umi, Muawanah.dkk. 2008. ”Konsep Dasar Akuntansi dan Pelaporan Keuangan jilid I.Jakarta: Depdiknas
  4. Dwi, Harti. 2008. “Modal SMK Akuntansi”(Edisi KTSP). Jakarta: Erlangga

G. PENILAIAN

KODE

KOMPETENSI

SKOR

1

Mengidentifikasi pengertian akuntansi

20

2

Mengidentifikasi  spesialisasi dalam bidang akuntansi

30

3

Mendiskripsikan Tugas-tugas jabatan dalam bidang akuntansi

25

4

Mengidentifikasi pihak-pihak yang membutuhkan informasi

25

TOTAL

100

Mengetahui,                                                                              Bantul, 15 Desember 2011

Kepala Sekolah SMK …………                                             Guru Mata Pelajaran Akuntansi

 

 

 

…………………….                                                                                 …………………….

NIP.

 

14 Januari 2012 Posted by | Uncategorized | Komentar Dimatikan

Motivasi dari sebuah buku, yg aku lupa judulnya


Pelajaran yang berharga dari dua pendapat yaitu ayah yang kaya dan Ayah yang miskin, yaitu:
 Ayah yang miskin menagjarkan “Cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan”, sedangkan Ayah yang kaya mengajarkan “Kekurangan uang adalah akar dari segala kejahatan”.
 Ayah yang miskin sering mengatakan “I can’t afford it”, sememntara Ayah yang kaya sering bertanya, “How can I afford it?”
 Ayah yang miskin mengatakan, “Orang kaya harus membayar pajak lebih besar untuk menolong mereka yang kurang beruntung hidupnya”, sementara Ayah yang kaya mengatakan, “Aturan perpajakn menghukum orang yang produktif, dan memberi hadiah kepada mereka yang tidak produktif”.
 Ayah yang miskin mengajarkan, “Belajarlah yang serius dan kamu akan mendapatkan perusahaan yang baik tempat bekerja nantinya”, sementara Ayah yang kaya mengatakan, “Belajarlah yang tekun supaya kamu dapat memperoleh perusahaan yang bagus untuk dibeli”.
 Ayah yang miskin mengatakan, “Saya tidak bisa kaya karenaharus membiayai anak-anak seperti kamu”, sedangkan Ayah yang kaya mengatakan, “Saya harus kaya sebab anak-anak seperti kamu perlu biaya yang besar”.
 Ayah yang miskin melarang pembicaraan tentang uang saat makan, sedangkan Ayah yang kaya mengajak diskusi soal-soal uang di meja makan.
 Ayah yang miskin menganjurkan, “Gunakan uang secara aman, jangan mengambil risiko”, sedangangkan Ayah yang kaya menganjurkan, “Belajarlah mengelola risiko-risiko”.
 Ayah yang miskin mengatakan, ” Rumah kita adalah investasi dan asset kita yang terbesar”, sementara Ayah yang kaya mengatakan, “Bila rumah kamu merupakan investasi yang terbesar, kamu dalam kesulitan”.
 Ayah yang miskin membayar tagihan-tagihan lebih dahulu, sementara Ayah yang kaya membayar tagihan-tagihan belakangan.
 Ayah yang miskin percaya bahwa perusahaan dan pemerintah akn mengurus kebutuhan-kebutuhan kita, sedangkan Ayah yang kaya mengandalkan kemandirian finansialnya sendiri.
 Ayah yang miskin menganjurkan untuk membuang sebanyak mungkin (dan diasanya tidak banyak), sedangkan Ayah yang kaya mengnjurkan untuk berinvestasi sebanyak mungkin.
 Ayah yang miskin mengajarkan cara menulis curriculum vitae yang bagus agar mendapatkan pekerjaan yang bagus, sedangkan Ayah yang kaya mengajrkan bagaimana menulis proposal bisnis yang bagus supaya dapat menciptakan lapangn pekerjaan.
 Ayah yang miskin mengatakan, “ Saya tidak akan pernah kaya”, sedangkan Ayah yang kaya mengatakan. “Saya orang kaya, dan oaring kaya tidak melakukan ini dan itu”.
 Ayah yang miskin mengatakan, “ Uang tidak penting”, sementara Ayah yang kaya menagtakan, “Uang adalah kekuasaan”.
 Ayah yang miskin bekerja keras untuk mendapatkan uang, sementara Ayah yang kaya membuat uang bekerja bagi dirinya.
 Ayah yang miskin mengajarkan, “Jadilah seorang yang special, ketehuilah banyak hal tentang sesuatu yang khusus’, sedangkan Ayah yang kaya mengajarkan, “Ketahuilah seba sedikit tentang baynak hal, jadilah generalis”

14 Desember 2011 Posted by | Uncategorized | Komentar Dimatikan

Penentuan Alat Evaluasi


Penentuan Alat Evaluasi

Evaluasi adalah suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafisran informasi untuk menilai keputusan-keoutusan yang dibuat dalam merancang sistem pengajaran. Pengertian tersebut memiliki tiga implikasi, yaitu sebagai berikut:

  1. Evaluasi adalah suatu proses yang terus-menerus, bukan hanya pada akhir pengajaran, tetapi dimulai sebelum dilaksanakanya pengajaran sampai dengan berakhirnya pengajaran.
  2. Proses evaluasi senantiasa di arahkan ke tujuan tertentu, yakni untuk mendapatkan jawaban-jawaban tentang bagaimana memperbaiki pengajaran.
  3. Evaluasi menuntut penggunaan alat ukur yang akurat dan bermakna untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan guna membuat keputusan.

Untuk dapat menentukan tercapainya suatu tujuan pendidikan dan pembelajaran maka perlu dilakukan evaluasi. Evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga tertentu. Hasil yang diperoleh dari evaluasidinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Oleh sebab itu kegiatan tersebut disebut evaluasi hasil belajar.

Fungsi evaluasi dalam proses belajar-mengajar

  1. Utuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran dalam hal ini adalah tujuan intruksional khususnya. Dengan fungsi ini dapat diketahui tikat pengetahuan bahan ajar oleh siswa.
  2. Untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar yang telah dilakuakn guru. Dengan fungsi ini guru dapat mengetahui berhasil atau tidaknya ia mengajar.

Dengan demikian fungsi evaluasi dalam proses belajar-mengajar bermanfaat ganda yaitu: Bagi siswa dan guru. Evaluasi hasil belajar dapat dilaksanakan dalam dua tahap yaitu:

  1. Evaluasi jangka Pendek yaitu evalauasi yang dilaksanakan guru pada pada akhir proses belajar-mengajar, evaluasi ini disebut evaluasi formatif. Tujuanya ditekankan pada perbaikan proses belajar-mengajar. Contoh: bila hasil evaluasi hasil belajar siswa pada akhir proses belajar-menjajar masih rendah mka kuru memiliki kewajiban untuk mengulangi kembali proses belajar-mengajar sampai tujuan tadi dapat dikuasai siswa.
  2. Evaluasi jangka panjang, yaitu evaluasi yang dilaksanakan setelah proses belajar-mengajar berlangsung beberapa kali, misalnya evaluasi tengah semesterar. Evaluasi ini disebut evaluasi sumatif. Evaluasi ini lebih lebih banyak ditujukan kepada siswa. Yang dimaksud yaitu evaluasi digunakan untuk menetapkan keberhasilan siswa dalam menguasai tujuan intruksioanal. Contoh: bila hasil belajar yang divapai siswa pada akhir semester banyak menglami kegagalan, tidak mungkin guru mengulang kembali proses belajar-mengjar. Kalauipun memperbaiki, terbatas pada bahan yang akan diberikan pada semester berikutnya.

Sasaran atau obyek evaluasi

Langkah pertama yang dilakukan guru dalam mengadakan evaluasi ialah menetapkan apa yang menjadi sasaran.  Pada umumnya terdapat tiga sasaran pokok evaluasi, yaitu:

  1. Tingkah laku. Artinya segi yang menyangkut sikap, minat, perhatian, ktrampilan siswa sebagai akibat dari proses mengajar dan belajar.
  2. Isi pendidikan , artinya penguasaan bahan pelajaran yang diberikan guru dalam proses mengajar dan belajar.
  3. Menyangkut proses belajar dan belajar itu sendiri. Proses mengajar dan belajar perlu diadakan evaluasi yang obyektif  dari guru, sebab baik tidaknya proses mengajar dan belajar akan menentukan baik tidaknya hasil belajar yang dicapai siswa.

Jenis dan alat evaluasi

Lanhkah kedua bagi guru setelah menentukan sasaran adalah menetapkan alat penilaian yang paling tepat untuk menilai sasaran tersebut. Pada umunya alat evaluasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Tes

-          Terdapat tes yang sudah distandarisasi  artinya tes tersebut telah mengalami proses validitas dan realibilitas untuk suatu tujuan tertentu  dan untuk sekelompok siswa tertentu.

-          Tes yang belum distandarisasi aialah tes buatan guru sendiri, sebab dibuat oleh guru untuk tujuan tertentu dan untu siswa tertentu pula. Tes buatan guru tetap harus memperhatikan validitas dan realibiitas.  Ten ini terdiri dari tiga bentuk yaitu:

1)      Tes lisan

2)      Tes tulisan

3)      Tes tindakan

Jenis tes tersebut biasanya digunakan untuk menilai isi pendidikan, kisalnya aspak pengetahuan, kecakapan, ketrampilan dan pamahaman palajaran yang telah diberikan guru.

  1. Non tes

Untuk melakuakan evaluasi dari aspek tingkah laku, jenis non tes lebih sesuai digunakan sebagai alat evaluasi. Seperti menilai aspek sikap, minat perhatian,karakteristik dan sebagainya.

Alat evaluasi jenis non tes antara lain:

1)      Observasi

Observasi yaitu pengamatan kepada tingkah laku pada utuasi tertentu. Observasi dapat dalam situasi yang sebenarnya dan bisa pula dalam situasi buatan. Kedua jenis observasi ini dapat dilaksanakan secara sitematik  yakni menggunakan pedoman observasi dan biasa tanpa pedoman.

2)      Wawancara

Wawancara dalah komunikasi langsung atntara yang mewawancarai dengan yang diwawancarai. Untuk memudahkan perlu disediakan pedoman wawancara berupa pokok-pokok yang akan ditanyakan.

3)      Studi kasus

Mempelajari individu dalam periode tertentu secra terus menerus untuk melihat perkembangannya. Misalnya untuk melihat sikap siswa terhadap pelajaran yang diberikan guru selama satu semester.

4)      Rating scale (sklaa penilaian)

Rating scale merupakan saah satu alat penial yang mengunakan skala yang te;ah disusun dari ujung yang negative sampai pada ujung yang positif sehingga pada sklala tersebut si peniali tinggal menggunakan tanda centang saja.

5)      Check list

Hampir menyerupai Rating scale, hanya disisni tidak perlu menyusun kriteria atau skala dari yang negative sampai pada yang positif. Cukup dengan kemungkinan-kemungkinan jawaban yang akan kita minta dari yang dievaluasi.

 

 

6)      Inventory

Daftar pertanyaan yang disertai alternative jawaban diantarnya setuju, kurang setujua atau tidak setuju.

 

 

Daftar pustaka

Nana, Sudjana. 2000. “Dasar-dasar Prose Belajar Mengajar”. Bandung:PT BARU ALGENSINDO.

14 Desember 2011 Posted by | Uncategorized | Komentar Dimatikan

penyunan alat evaluasi


Penyusunan alat evaluasi

Syarat menyusun alat evaluasi

Membuat alat evaluais tidak mudah, sebab pertanyaan merupakan alat untuk melihat perubahan kemampuan tingkah laku siswa setelah ia menerima pengajaran dari guru. Alat evaluais yang salah akan menggambarkan kemapuan atau tingkah laku yang salah.  Oleh karena itu teknik penyususnan alat evaluais penting dipertimbangkan agar memperoleh hasil yang obyektif. Bebrapa syarat dan petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun alat evaluasi, ialah:

  1. Harus menetapkan dulu segi-segi yang akan dinilai, sehingga betul-betul terbatas serta dapat memberi petunjuk bagaimana dan dengan alat apa segi tersebut dapat kita evaluasi.
  2. Harus menetapkan alat evaluasi yang betul-betul valid dan reliable, artinya tahap ketetapan dan ketepatan tes sesuai dengan aspek yang akan dites.
  3. Evaluasi harus obyektif, artinya menilai prestasi siswa sebagaimana mestinya.
  4. Hasil evaluasi tersebut harus betul-betul diolah dengan teliti sehingga dapat ditafsirkan berdasarkan kriteria yang berlaku,
  5.  Alat evaluais yang dibuat hendaknya mengandung unsur diagnosis, artinya dapat dijadikan bahan untuk mencari kelemahan siswa belajar dan guru mengajar.

Beberapa hal yang harus diperhatikan guru atau pengajar dalam melaksanakan evaluasi, antara lain:

  1. Penilaian harus dilakasnakan secra berlanjut, artinya setiap saat di adakan penilaian sehingga diperoleh suatu gambaran yang obyektif mengenai kemapuan siswa.
  2. Dalam proses mengajar  dan belajar peniali dapat melaksanakan dalam tiga tahap, yaitu:

-         Pre-test, artinya tes pada siswa sebelum pelajaran dimulai atau sebelum proses pengajaran dilaksanakan.

-         Mid-test, artinya tes yang diberikan pada pertengahan program pengajaran.

-         Post-tes, artinya tes yang diberikan setelah proses pengajaran berakhir.

  1. Penialiana dilakuakn bukan hanya di dalam kelas melainkan juga diluar kelas, lebih-lebih pada aspek tingkah laku.
  2. Untuk memperoleh gambarab obyektif, penilaian jangan hanya tes tetai perlu dipergunakan jenis non tes.

Penyusunan alat evaluasi dan pengolahanya.

Keahlian dan kecakapan membuat alat evaluais merupakna sutu pernyataan mutlak yang harus dimiliki oleh guru. Dengan soal yang baik dan tepat akan diperoleh gambaran prestasi seoarang siswa, demikian pula sebalikanya. Berikut ini merupakan petunjuk umum penyususnan alat evaluasi, yaitu:

  1. Tes esai

Siswa diminta menjawab pertanyaan dengan penjelasan dengan menggunakan kalimat sendiri. Oleh karena itu sifatnya sanagn subyektif. Namuan dalamtes ini dapat menilai proses mental yang tinggi, terutapa dalam kesanggupan meyusun jawaban, berekspesi, kesangguapan menggunakan bahasa dan lain-lain. Terdapat dua macam tes ini, yaitu:

1)    Uaraian bebas (free essay) dalam bentuk ini siwa akan menjawab secara bebas tentang suatu masalah yang ditanyakan. Kelemahan bentuk ini adalah sukar menentukan standar jawabanya, sebab jawaban siswa sifatnya beraneka ragam.

2)    Uraiana yang terbatas (limited essay)  dalam bentuk ini jawaban siswa dibatasi dan diarahkan kepada hal yang akan diminta dari pertanyan tersebut. Pertyanan jenis edua lebih mudah memeriksanya sebab sudah ditetapkan standarnya. Aspek yang perlu diungkapkan pada tes ini umunya meliputi:

-         Mengenal fakta

-         Membandingkan

-         Mencari sebab dan akibat

-         Mencari contoh

-         Membuat penggolongan

-         Diskusi, kritik dan saran

-         Mengemukakan pendapat baru dan lain-lain yang dianggap perlu.

Cara memeriksa dan menilai tes esai

1)    Tetapkan dulu kunci jawaban standar

2)    Periksa soal demi soal untuk setiap oaring. Artinya jangan periksa seoarang demi seoarang semua soal, tetapi satu nomer setiap nomer.

3)    Sediakan waktu yang cukup untuk memeriksanya, jangan dipaksa memeriksa sekaligus.

4)    Teknik memberikan angka, sebaikanya menggunakan weight system, artinya memberikan angka untuk setiap nomer tidak sama tergantung kepada tingkat kesukaran yang dimiliki soal tersebut.

  1. Jenis tes obyektif

1)    Bentuk benar/salah (true/false)

Bentuk test yang ditanyakan tinggal memilih jawaban di antara benar dan salah. Tidak ada pilihan lain. Bentuk benar/salah ada dua cara, yaitu:

-         Dengan koreksi: siswa harus membetulkan bila jawabanya salah

-         Tanpa koreksi; meskipun jawaban itu slah tidak perlu siswa membetulkanya.

Iten benar salah dimulai dengan petunjuk pengerjaan sebagai berikut:

-         Lingkarilah huruf B bila peranyataan itu betul dan lingkari huruf S bila pernyataan itu salah (untuk jenis tanpa koreksi)

-         Lingkarilah huruf B bila pertanyaan itu betul dan lingkarilah huruf S, bila pernyataan itu salah. Bila saudara melingkari huruf S, betulakanlah kata/kalimat yang diberi garis dibawah ini ( untuk jenis benar salah dengan koreksi)

Petunjuk membuat item bentuk benar-salah, yaitu:

a)     Pertanyaan hendaknya jangan meragukan siswa artinya siswa merasa ragu apakah pertanyaan itu benar atau salah.

b)    Dalam salah satu pertanyaan diusahakan hanya mengunakan  satunpengertian yang diminta, jangan memasukkan lebih dari satu pengertian yang berbeda.

c)     Hindari pengunaan kata-kata yang pasti dan ekstrim. Mislanya: tidak, pasti, sangat tepat, sama sekali, hanya satu-satunya dan sebagainya.

d)    Jawaban soal jangan diatur secra sistematik sehingga bisa ditebak.

 

S=R-W

 

Rumus untuk mencari score akhir bentuk benar salah ialah:

S =  Score yang diperoleh (Raw Score)

R = Right (jawaban yang benar)

W = Wrong (jawaban yang salah)

2)    Pilihan ganda (multiple choice)

Tes bentuk ini menyediakan kemungkian jawaban yang harus dipilih dari dua alternative, baiasanya 4 alternatif. Tugas siswa harus memilih satu alternatifyang dikehendaki. Oleh karena itu soal ini didahului oleh petunjuk.

“ Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dengan cara melingkari salah satu huruf yang terdapat dimuka kemungkinan jawaban.”

Petunjuk membuat soal pilihan ganda, yaitu:

a)     Option atau kemungkian jawaban harus sejenis dan seolah-olah cocok sebagai jawaban.

b)    Hindari option panjang, tetapi tidak mempunyai arti.

c)     Harus ada option yang paling tepat di antara option-option lainya.

d)    Hindari penempatan option sistematik sehingga dapat ditebak siswa.

Tipe pertanyaan bentuk pilihan ganda minimal ada enam jenis, yaitu:

a)     Variasi negarif

Setiap pertanyaan mempunyai beberapa kemungkian jawaban, disediakan satu kemungkian jawaban yang salah.

b)     Variasi berganti

Pertanyaan memiliki beberapa kemungkinan jawaban yang paling betul, tapi ada satu jawaban yang paling betul.

c)     Variasi yang tidak lengkap

Pertanyaan memiliki beberpa kemungkinan jawaban yang semuanya belum lengkap, dan siswa mencarikemungkinan penyelesaiannya.

d)    Variasi berganda

Pertanyaan yang memiliki jawaban yang semuanya betul, dan memilih yang paling betul.

e)     Analisis hubungan

Pertanyaan memiliki sejumlah jawaban siswa diminta menganalisis hubungan yang ada dalam soal tersebut.

f)      Analisis kasus

 

S = R-(W/N-1)

Pertanyaan berupa deskripsi kasus dan siswa diminta menjawab soal yang diambil dari kasus tersebut. Menilai soalpikihan ganda menggunakan rumus, yaitu:

S    =       Skor yang diperoleh

R   =       Right (jawaban yang benar)

W  =       Wrong (jawaban yang salah)

N   =       Banyak Option

I     =      Bilangan tetap

3)    Bentuk pasangan menjodohkan (matching)

Tipe pertanyaan ini terdiri dari dua kolom, setiap pertanyaan di kolom pertama harus dijodohkan dengan uraian pada kolom dua.oleh karena itu cara mengerjakan sidahului dengan petunjuk sebagai berikut:

Pasangkanlah pertanyaan yang ada pada lajur kiri dengan yang ada pada lajur kanan, dengan menempatkan huruf yang terdapat dimuka peranyataan lajur kiri pada titik-titik yang disediakan lajur kanan,”

Syarat membuat soal menjodohkan adalah:

a)     Soal jangan terlalu banyak, misalnya 10 atau 15 pertanyaan sekaligus, kecuali bila dibagi-bagi dalam beberapa kolom.

b)    Jangan pertanyaan yang ada pada jalur kiri, minimal satu lebih banyak dari yang ada dalam lajur kanan.

c)     Item-item harus homogen.

 

S=R

Cara Scoring, yaitu:

S    =       Skor yang diperoleh

R   =       Right (jawaban yang benar)

4)    Tipe pertanyaan melengkapi (completion)

sering juga disebut short-answered (isian pendek). Tipe pertanyaan ini berupa serangkaian kalimat yang penting ditiadakan. Tugas siswa mengisi bagian yang tidak ada tersebut. Oleh karena itu petunjuk soalnya sebfai berikut:

“ Isilah atau lengkapi bagian yang diberi titik-titik dengan kata yang tepat.”

Petunjuk mebuatnya:

a)     Hilangkan kata yang penting saja  pada setiap soal.

b)    Hindari jangan sampai terlalu banyak bagian yang akan diisi sehingga membingngkan siswa.

c)     Jangan meminta isian yang apanjang (kalimat).

d)    Tempat yang akan di isi (titik-titik) harus sama panjangnya untuk setiap soal.

  1. Cara mengolah Skor

Yang dimaksud dengan pengolahan skor ialah merupakan nilai raw-score menjadi  drive-score. Untuk mengbahnya ada tiga hal yang perlu dilakukan:

1)    Mencari niali rata-rata (Mean)

Mean diperoh dengan cara membagi jumlah nilai dengan banyaknya siswa. Untk mencari niali rata-rata ada dua cara yaitu:

a)     Data yang tidak dikelompokkan

 

M =∑X/N

Rumus

 

X = nilai yang diperoleh individu

N      = jumlah individu

b)    Cara untuk data yang berkelompok

 

M = M + I (∑fd/N)

Rumus:

 

M = Mean                                ∑ fd = jumlah deviasi

M = Mean duga                                 N      = jumlah individu

I = interval

Langkah-langkah perhitungan:

-         Buatlah distribusi frekuensi nilai dengan menentukan kelas interval (jarak nilai)

-         Menghitung beberapa oaring siswa yang mempunyai nilai pada kelas interval tersebut.

-         Menghitung deviasi (penyimpangan) dengan menetapkan angka nol pada kedudukan kelas interval  yang memiliki frekuensi siswa yang tinggi.

-         Menghitung fd dengan cara mengalikan f dengan d, lalu cari fd2 dengan mengalikan fd dengan d.

2)    Menghitung standar Deviasi

a)     Cara untuk yang tidak dikelompokan

 

SD = I √∑fd2/N – (∑fd2/N)

 

Rumus:

 

b)    Cara untuk yang dikelompokan

 

SD = I √∑x2/N-1

X   = (X – X )

 

 

Rumus:

 

 

3)    Mencari batas lulus (passing grade)

a)     Batas lulusan actual

Menentukan batas lulusan berdasarkan kepada Mean dan Standar Deviasi actual. Batas lulusan yang digubakan di Indonesia misalnya angka 6 dalam standar angka 0-10. Mka angka 6 dalam skala adalah 0.25 (skema sigma).

b)    Batas lulus ideal

Baas lulus ideal menggunkakan mean ideal yang besarnya setengah dari skor maksimal, dan menggunakan Standar deviasi ideal pula. Yang besarnya sepertiga dari Mean Ideal.

c)     Batas lulusan pursosif

Batas lulusan yang ditentukan pleh panitia (guru-guru) berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

  1. System penilaian

Dalam penilaian ahasil belajar siswa, guru perlu menetapkan suatu kriteria tertentu . penentuan kriteria dalam menilai hasil belajar siswa pada hakikatnya berhubungan dengan system penilaian. Terdapat dua system penilaian hasil belajar, yaitu:

  1. Penilaian Acuan Norma (PAN)

PAN digunakan apabilapenilaian hasil belajar siswa ditunjukan untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya. Tujuan dari penilaian acuan norma ialah untuk membedakan siswa atas kelompok-kelompok tingkat kemampuan mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi. PAN cocok digunakan untuk keperluan seleksi, untuk penempatan siswa dan utuk tes sumatif.

  1. Penilaian acuan patokan (PAP)

Pada PAP penilaian lebih ditujukan kepada program  (penguasaana bahan pelajaran), bukan kepada kedudukan siswa  di dalam kelas. Oleh seab itu PAP berusaha mengukur tingkat pencapaian tujuan oleh para siswa. PAP lebih mengutamakan apa yang dapat dikuasai oleh siswa, kemampuan apa yang suadah adan belum dicapai, setelah mereka menyelesaikan satu bagian kecil dari keseluruhan program. PAP biasanya digunakan dalam tes formatif dan tes diagnostic.

14 Desember 2011 Posted by | Uncategorized | Komentar Dimatikan


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Membicarakan mengenai media berarti kita membicarakan proses pembelajaran. Media memiliki peranan yang penting dalam pembelajaran, seperti yang telah dibahas pada bab desain pembelajaran. Media pembelajaran berguna untuk mengkomunikasikan materi pelajaran kepada peserta didik.Teori yang dikembangkan dari berbagai penelitian tentang media komunikasi telah memberi arti tersendiri bagi pengembangan pembelajaran.Apalagi saat ini mulai berkembang teknologi yang dapat memudahkan guru menyampaikan bahan ajarnya.

Beberapa cara dilakukan untuk membuat klasifikasi media. Bretz misalnya membuat penggolongan media berdasarkan penyajian dan penyimpanan pesan. Mula-mula diidentifikasi tiga bentuk utama yaitu: ujud, suara dan gerak. Ujud dijabarkan lagi menjadi tiga yaitu: gambar, garis dan lambing. Berdasarkan klasifikasi itu Bretz membedakan delapan kategori media, dimuali yang mempunyai ciri banyak hingga media, dimulai yang mempunyai cirri banyak hingga media yang mengandung satu ciri.Bretz telah banyak member petunjuk tentang media dan pemilihanya untuk keperluan pembelajaran.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian dari Media Pembelajaran?
  2. Apa manfaat Media dalam kegiatan pembelajaran?
  3. Apa macam-macam Media yang dipakai dalam kegiatan belajar-mengajar?
  4. Bagaimana proses pemilihan media pembelajaran?

C.Tujuan

  1. Mengetahui pengeritian media pembelajaran.
  2. Memahami manfaat media dalam kegiatan pembelajaran.
  3. Mengetahui macam-macam media yang dipakai dalam kegiatan belajar-mengajar.
  4. Memahami proses pemilihan media pembelajaran

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti perantara atau pengantar. Gagne menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar, dan dibaca. Apa pun batasan yang diberikan, ada persamaan diantara batasan tersebut yaitu bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

Dalam konsep pendidikan sumber informasi yaitu: dosen, guru, mahasiswa, siswa atau orang lain. Maka, dalam hal ini media mendapat definisi lebih khusus, yakni “teknologi pembawa pesan (informasi) yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran”, atau sarana fisik untuk menyampaikan isi materi pembelajaran.

Manfaat Media dalam Kegiatan Pembelajaran.

Manfaat media dalam kegiatan pembelajaran adalah mempelancar proses interaksi antara guru dengan siswa, dalam hal ini membentu siswa belajar secar optimal. Kemp dan Dayton (1985), mengidentifikasi manfaat media dalam kegiaan pembelajaran, yaitu:

a. Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan.

Guru mungkin mempunyai penafsiran yang beraneka ragam tentang materi pelajaran. Melalui media, keanekaragaman ini dapat direduksi dan disampaikan kepada siswa secara seragam.

b.Proses pembelajaran menjadi lebih menarik.

Media dapat menyampaikan informasi yang dapat didengar dan dapat dilihat, sehingga dapat mmedeskripsikan suatu masalah, suatu konsep, suatu proses atau prosedur yang bersifat abstrak dan tidak lengkap menjadi lebih luas dan lebih lengkap. Yang paling utama media dapat membantu guru menghidupkan suasana kelasnya dan menghindari suasana monoton dan membosankan.

c.Proses belajar siswa menjadi lebih interaktif.

Media harus dirancang agar dapat membantu guru dan siswa melakuakn komunikasi dua arah secara aktif.

d.Jumlah waktu belajar-mengajar dapat dikurangi.

Dengan media pandidikan yang baik guru tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menyampaikan materi kepada para peserta didik.

e.Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan.

Penggunaan media tidak hanya membuat proses belajar-mengajar menjadi efisien, tetapi juga membantu siswa menyerap materi pembelajaran lebih mendalam dan utuh.

f.Proses belajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja.

Media pembelajaran dapat dirancang sehingga siswa dapat belajar dimana saja dan kapan saja, tanpa tergantung pada keberadaan seorang guru.

  1. Sikap positif siswa terhadap bahan pelajaran maupun terhadap proses belajar itu sendiri dapat ditingkatkan.
  2. Peran guru dapat berubah kea rah yang lebih positif dan produktif.

Yang di maksudkan yaitu: guru tidak perlu mengulang penjelasan mereka bila media digunakan dalam pembelajaran, guru dapat memberikan perhatian lebih banyak pada aspek-aspek lain dalam pembelajaran dan guru tidak hanya sekedar pengajar tetapi juga konsultan, penasehat atau manajer pembelajaran.

 

  1. Macam-macam Media yang Dipakai dalam Kegiatan Belajar-mengajar
  2. Media Grafis

Media grafis termasuk media visual. Media grafis berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indra penglihatan. Pesan yang akan disampaikan di tuangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual.

Banyak jenis media grafis, beberapa diantaranya akan kita bicarakan dalam bahasan di bawah ini.

Gambar/Foto

Di antara media pembelajaran, gambar /foto adalah media yang paling umum dipakai. Dia merupakan bahasa yang umum, yang dapat dimengerti dan dinikmati di mana-mana. Beberapa kelebihan media gambar foto yang lain dijelaskan di bawah ini:

1)      Sifatnya kongkrit.

2)      Gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu.

3)      Media gambar/foto dapatmengatasi keterbatasan pengaamtan kita.

4)      Foto dapat memperjelas suatu masalah.

5)      Foto harganya murah dan gampang di dapat serta digunakan, tanpa memerlukan peralatan khusus.

Selain kelebihan-kelebihan tersebut, gambar atau foto mempunyai beberapa kelemahan yaitu :

1)      Gambar/foto hanya hanya menekankan persepsi indera mata

2)      Gambar/foto yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran.

3)      Ukuran sangat terbatas untuk kelompok besar.

Selain itu, ada enam syarat yang perlu dipenuhi oleh gambar/foto yang baik sehingga dapat dijadikan sebagai media pendidikan.

1)      Autentik

2)      Sederhana

3)      Ukuran relatif

4)      Gambar/foto sebaiknya mengandung gerak atau perbuatan

5)      Gambar yang bagus belum tentu baik untuk mencapai tujuan pembelajaran

6)      Tidak setiap gambar yang bagus merupakan media yang bagus.

  1. Sketsa.Sketsa adalah gambar yang sederhana, atau draf kasar yang melukiskan bagian-bagian pokoknya tanpa detail. Sketsa selain dapat menarik perhatian murid, menghindari verbalisme dan dapat memperjelas penyampaian pesan, harganya pun tak perlu dipersoalkan sebab media ini dibuat langsung oleh guru. Sketsa dapat dibuat secara cepat sementara guru menerangkan dapat pula dipakai untuk tujuan tersebut.
  2. Diagram. Sebagai suatu gambarsederhana yang menggunakan garis-garis dan simbol-simbol, diagram atau skema menggambarkan struktur dari objek secara garis besar. Diagram menunjjukan hubungan yang ada antara komponennya atau sifat-sifat proses yang ada di situ. Diagram menyederhanakan hal yang kompleks sehingga dapat memperjelas penyajian pesan.

Beberapa ciri diagram yang perlu diketahui adalah :

1)      Diagram bersifat simbolis dan abstrak sehingga kadang-kadang sulit dimengerti;

2)      Untuk dapat membaca diagram seseorang harus mempunyai latar belakang tentang apa yang didiagramkan;

3)      Walaupun sulit dimengerti, karena sifatnya yang padat, diagram dapat memperjelas arti.

3. Bagan/chart

Seperti halnya media grafis yang lain, bagan atau chart termasuk meda visual. Fungsinya yang pokok adalah menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan secara visual.

Sebagai media yang baik, bagan harus :

1)      Dapat dimengerti anak

2)      Sederhana dan lugas, tidak rumit atau berbelit-belit

3)      Diganti pada waktu tertentu agar selain tetap termasa juga tak kehilangan daya tarik.

  1. Grafik

Sebagai suatu media visual, grafik adalah gambar sederhana yang menggunakan titik-titik, garis atau gambar. Fungsi grafik adalah untuk menggambarkan gambar kuantitatif secara teliti, menerangkan perkembangan atau perbandingan sesuatu objek atau peristiwa yang saling berhubungan secara singkat dan jelas. Ada beberapa macam grafik yang dapat kita gunakan diantaranya adalah grafik garis, grafik batang, grafik lingkarandan grafik gambar.

  1. Kartun

Kartun sebagai salah satu bentuk komunikasi grafis adalah suatu gambar interpretatif yang menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan sesuatu pesan secara cepat dan ringkas atau sesuatu sikap terhadap orang, situasi, atau kejadian-kejadian tertentu.

  1. Poster

Poster tidak saja penting untuk menyampaikan kesan-kesan tertentu tetapi dia mampu pula untuk mempengaruhi dan memotivasi tingkah laku orang yang melihatnya. Poster berfungsi untuk mempengaruhi orang-orang membeli produk baru dari suatu perusahaan.

  1. Peta dan globe

Pada dasarnya peta dan globe berfungsi untuk menyajikan data-data lokasi. Secara khusus peta dan globe tersebut memberikan informasi tentang:

1)      Keadaan permukaan bumi, daartan, sungai-sungai, gunung-gunung daratan serta perairan lainnya;

2)      Tempat-tempt serta arah dan jarak dengan tempat yang lain;

3)      Data-data budaya dan kemasyarakatan seperti populasi atau pola bahasa /adat istiadat;dan

4)      Data-data ekonomi, seperti hasil pretania, industri atau perdagangan internasional.

  1. Media audio

Berbeda dengan media grafis, media audio berkaitan dengan indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif, baik verbal maupun non verbal. Ada beberapa media dapat kita kelompokkan dalam media audio antara lain:

  1. Radio

Sebagai suatu media, radio mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan media yang lain, yaitu :

1)      Harganya relatif murah dan variasi programnya lebih banyak daripada TV;

2)      Sifatnya mudah dipindahkan. Radio dapat dipindah-pindahkan dari ruang satiu ke ruang lain dengan mudah;

3)      Jika digunakan bersama-sama dengan alat perekam radio bisa mengatasi problem jadwal karena program dapat direkam dan diputar lagi sesuak hati;

4)      Radio dapat mengembangkan daya imajinasi anak;

5)      Dapat merangsang partisipasi aktif pendengar;

6)      Radio dapat memusatkan perhatian siswa padaa-kata yang digunakan, pada bunyi dan artinya;

7)      Siaran lewat radio terbukti amat tepat/cocok untuk mengajarkan musik dan bahasa.

8)      Radio dapat mengerjakan hal-hal tertentu secara lebih baik bila dibandingkan dengan jika dikerjakan oleh guru;

9)      Radio dapat mengerjakan hal-hal tertentu yang dapat dikerjaka oleh guru ;

10)  Radio dapat mengatasi batasan ruang dan waktu , jangkauannya luas.

  1. Alat perekam pita magnetik

Alat perekam pita magnetik atau lazimya orang menyebut tape recorder adalah salah satu media pendidikan yang tak dapat diabaikan untuk menyampaikan informasi, karena mudah menggunakannya.

Beberapa kelebihan alat perekam sebagai media pendidikan diurakan di bawah ini:

1)      Alat perekam pita magnetik mempunyai fungsi ganda yang efektif sekali, untuk merekam, menampilkan rekaman dan menghapusnya.

2)      Pita rekaman dapat diputar berulang-ulang tanpa mempengaruhi volume.

3)      Rekaman dapat dihapus secara otomatis dan pitanay bisa dipakai lagi.

4)      Pita rekaman dapat digunakan sesuai jadwal yang ada.

5)      Program kaset dapat menyajikan kegiatan-kegiatan/hal-hal di lua sekolah.

6)      Program kaset bisa menimbulkan berbagai kegiatan.

7)      Program kaset memberikan efisiensi dalam pengajaran bahasa

Dibandingkan dengan program radio, program kaset mempunyai kelemahan sebagai berikut :

1)      Daya jangkaunya terbatas

2)      Dari segi pengadaannya bila untuk sasaran yang banyak jauh labih mahal.

  1. Laboratorium bahasa

Laboratorium bahasa adalah alat untuk melatih siswa mendengar dan berbicara dalam bahasa asing dengan cara menyajikan materi pelajaran yang disiapkan sebelumnya. Media yang dipakai adalah alat perekam.

  1. Media Proyeksi Diam

Media proyeksi diam memiliki kesamaan dengan media grafik dalam arti memyajikan rangsangan visual. Sedangkan perbedaan yang jelas adalah pada media grafis dapat secara langsung berinteraksi dengan pesan media yang bersangkuatanpada media proyeksi,pesan tersebut harus diproyeksikan dengan proyektor agar dapat dilihat oleh sasaran.

Beberapa jenis media proyeksi diam adalah:

  1. Film Bingkai

Film bingkai adalah suatu film yang berukuran 35 mm, yang biasnya dibungkus bingkai berukuran 2×2 inci terbuat dari karton atau plastik. Keuntungan penggunaan film bingkai, yaitu:

1)      Materi pembelajaran da[pat sama disebarkan ke seluruh siswa secara serentak.

2)      Perhatian anak-anak dapat dipusatkan pada satu butir tertentu, sehingga dapat menghasilkankeseragaman pengamatan.

3)      Fungsi berpikir penonton dirangsang dan dikembangkan secara bebas.

4)      Film bingaki berada di bawah control guru.

5)      Film bingkai baik untuk menyajikan berbagai bidang studi tertentu, baik kelompok maupun individu.

6)      Penyimpanan film bingkai sangant mudah.

7)      Film bingkai dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan indera.

8)      Program film bingkai dapat menjadi media yang sangat efektif bila dibandingakn dengan media cetak yang berisi gambaryang sama.

9)      Program film bingkai bersuara mudah direvisi, baik visual maupun audionya.

Selain itu terdapat kelemahanya, yaitu:

1)      Seri program film bingkai yang terdiri dari gambar-gambar lepas, sehingga mudah untuk hilang.

2)      Hanya mampu menyediakan obyek-obyek secara diam.

3)      Bila tidak ada daylight screen, penggunaan program slide suara memerlukan ruangan yang gelap.

4)      Biayanya lebih ahal dibandingankan denga fott, bagan danpapan flannel.

  1. Film Rangkain

Ukuran filmnya sama dengan film bingaki yaitu 35 mm. kumlah gambar satu rol film rangkai antara 50 sampai dengan 75 gambar dengan panjang lebih kurang 100 sampai dengan 130 cm tergantung pada isi film tersebut berikut ini merupakan kelebihan dari film rangkaian:

1)      Kecepatan penyajian film rangkai bisa diatur, dapat ditambah narasi dengan control oleh guru,

2)      Semua kelemahan non projected still picture dimiliki oleh film rangkai,

3)      Film rangkai dapat mempersatukan berbagai media pendidikan yang berbeda dalam suatu rangkai,

4)      Cocok untuk mengajar ktrampilan,

5)      Ukuran gambar sudah pasti karena film rangkai merupakan satu kesatuan,

6)      Penyimpanan mudah cukup digulung dan di masukan kedalam tempat khusus,

7)      Memproduksi dengan jumlah besar relative lebih mudah penggambaranya dibandingkan film bingkai.

8)      Dapat untuk belajar kelompok maupun individual.

Kelemahan pokok film rangkai adalah sulit diedit atau direvisi karena sudah merupakan satu rangkai, sulit dibuat sendiri secara local dan memerlukan peralatan laboratorium yang dapat mengubah film bingkai menjadi film rangaki.

  1. Media transparasi

Media trasparasi (OHT) seing kali disebut perangkat kerasnya yaitu OHP.OHP adalah alat yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat memproyeksikan transparasi kea rah layar lewat atas atau samping dari yang menggunakan. Berikut ini kelebihan media transparasi, yaitu:

1)      Gambar yang diproyeksikan lebih jelas dibandingkan gambar di papan.

2)      Gambar sambil mengajra dapat berhadapan dengan siswa,

3)      Benda-benda kecil dapat diproyeksikan  hanya dengan meletakkannya di atas OHP, Walupun hasilnya berupa baying-bayang.

4)      Memungkinkan penyajian diskriminasi warna dan menarik minat-minat siswa,

5)      Tidak memerluakn tenaga bantan operator dalam menggunakan OHP karena mudah dioprasikan,

6)      Lebih sehat dari pada papan tulis,

7)      Praktis dapat dipergunakan untuk semua ukuran kelas ruangan,

8)      Mempunyai variasi teknik penyajian yang menarik dan tidak membosankan, terutama untuk proses yang kompleks dan bertahap.

9)      Menghemat tenaga dan waktu karana dapat dipakai berulang-ulang,

10)  Sepenuhnya dibawah kontrol guru,

11)  Dapat dipakai sebagai petunjuk sistematik penyajian guru dan apabila menggunakan bingkai, catatan tambahan untuk mengingatkan si guru dapat dibuat di atasnya,

12)  Dapat mestrasimulasikan efek gerak yang sederhana dan warna pada proyeksinya dengan menambah alat penyajian tertentu.

Berikut kelemahan media transprasi, yaitu:

1)      Memerlikan peralatan khusus untuk memproyeksikannya yaitu OHP yang sulit ditemui di tempat-tempat tertentu.

2)      Transparasi membutuhkan waktu ,

3)      Karana lebas, transparasi menuntut cara kerja yang sistematik, bila tidak maka akan kacau.

4)      Jika teknik pemanfaatan serta potensinya kurang dikuasai maka siswa akan bersikap pasif.

  1. Proyeksi tak tembus pandang

Proyeksi tak tembus pandang adalah alat ntuk memproyeksikan bahan bukan transparan, tetapi bahan-bahn tidak tembus pandang.Benda-benda tersebut adalah benda datar, tiga dimensiseperti mata uang, model, serta warna dan anyaman ynag di proyeksikan. Kelbihanya

1)      Dapat diguanakan untuk hampir semua bidang studi yang ada di kurikulum.

2)      Dapat memperbesar benda kecil menjadi sebesar papan, sehingga bahan yang semula hanya untuk individu jadi untuk seluruh kelas.

Kelemahanya ialah bahwa proyektor tembuspandang tidak seperti OHP harus digunkan diruangan yang gelap.

  1. Mikrofis

Mikrofis adalah lembaran film trasparasi terdiri dari lambing-lambang visual yang diperkecil sedemikian rupa sehingga tidak dapat dibaca dengan mata telanjang.Secara umum, mikrifis termasuk kelompok media bentuk kecil.Keuntungan yang paling jelas adalah menghemat ruangan. Dan keuntungan yang lain adalah:

1)      Mudah dikopi cetak, dan didupikasi dengan biaya yang relaif muarah,

2)      Bisa diproyeksikan ke layar lebar,

3)      Karena dalam bentuk lembaran ringkas, hemat tempat dan praktis untuk dikirim

4)      Informas kepustakaan yang terletak di bagian atas lembaran mudah untuk diidentifikasi,

Kelemahan mikrofis yang perlu diperhatikan adalah:

1)      Pembuatanya masternya mahal,

2)      Mudah hilang,

3)      Bila telah banyak, sulit memfilenya sehingga mudah salah masuk filing.

  1. Film

Film merupakan media yang amat besar kemampaunya dalam membantu proses belajar mengajar. Ada tiga macam ukuran film yaitu 8 mm, 16 mm dan 35 mm. keungulan dari penggunaan film, yaitu:

1)      Film merupakan denominator belajar yang umum.

2)      Film sanat bagus untuk menerangkan suatu proses,

3)      Film dapat menampilkan kembali masa lalu yng menyajikan kejadian serjarah masa lampau,

4)      Horizon sangat luas.

5)      Dapat menyajikan baik teori maupun praktek,

6)      Dapat mendatangkan seorang ahli dan medengarkan suaranya dukelas,

7)      Menggunakan teknik warna, gambar, lambat, animasi dan sebagainya,

8)      Dapat memikat perhatian anak,

9)      Film lebih realistis,

10)  Film dapat mengatasi keterbatasan pengindraan,

11)  Film dapat merangsang motivasi anak

Sedangkan kelemahanya adalah biaya produksi mahal, film tidak dapat mencapai semua tujuan pembelajaran, penggunaan perlu ruang lingkup.

  1. Film gelang

Film gelang adalah jenis media yang terdiri dari film 8 mm atau 16 mm yang ujung-ujungnya saling berkaitan. Kelebihanya adalah:

1)      Ruang tak perlu digelapkan

2)      Dapat berputar terus sehingga pengertian yang belum dipahami dapat dipahami.

3)      Menunjukan suatu periode yang pendek,

4)      Mudah diintegrasikan ke pelajaran dan dipakai bersama dengan medium yang lain

5)      Murid dapat memakainya sendiri, film dapat dihentikan kapan saja untuk diselingi dengan penjelasan.

 

 

 

  1. Pemilihan Media Pembelajaran

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan prioritas pengadaan media pendidikan adalah sebagai berikut:

  1. Relevansi pengadaan media pendidikan edukatif.
  2. Kelayakan pengadaan media pendidikan edukatif.
  3. Kemudahan pengadaan media pendidikan edukatif.

Pemilihan dan pemanfaatan media perlu memperbaiki kriteria berikut ini:

  1. Tujuan yaitu media hendaknya menunjang tujuan pengajaran yang telah dirumuskan
  2. Keterpaduan (validitas) yaitu tepat dan berguna bagi pemahaman bahan yang dipelajari.
  3. Keadaan peserta didik yaitu kemampuan daya pikir dan daya tangkap peserta didik dan besar kecilnya kelemahan peserta didik.
  4. Ketersediaan yaitu perlu mempertimbangkan mudah sulitnya media diperoleh baik di perpustakaan maupun di sekolah.
  5. Mutu teknis yaitu media harus memiliki kejelasan dan kualitas yang baik.
  6. Kesesuaian biaya yang dikeluarkan.

Hal yang perlu diperhatikanguru dalam menggunakan media pendidikan untuk mempertinggi kualitas pembelajaran:

  1. Guru perlu memiliki pemahaman media pendidikan antara lain jenis dan manfaat media pendidikan, kriteria memilih dan menggunakan media pendidikan, menggunakan media pendidikan sebagai alat bantu mengajar dan tindak lanjut penggunaan media dalam proses mengajar.
  2. Guru terampil dalam membuat media pendidikan sederhana untuk kepentingan pembelajaran terutama media dimensi dan dimensi.
  3. Pengetahuan dan keterampilandalam menilai keefektifan penggunaan media dalam proses pembelajaran agar ia bisa menentukan apakah penggunaan media mutlak digunakan atau tidak.

Penggunaan media pembelajaran setidak-tidaknya digunakan guru pada situasi sebagai berikut:

  1. Bahan pelajaran yang dijelaskan oleh guru kurang dipahami siswa, sehingga guru menampilkan media untuk memperjelas pemahaman siswa mengenai bahan pelajaran.
  2. Terbatasnya sumber pengajaran sehingga guru harus menyediakan sumber tersebut dalam bentuk media.
  3. Guru kurang bisa menjelaskan bahan pengajaran dalam bahasa sehingga guru bisa menyajikan suatu bahan untuk dianalisis siswa.
  4. Perhatian siswa terhadap  mata pelajaran berkurang karena kebosanan mendengar uraian guru sehingga penggunaan media akan menumbuhkan kembali perhatian siswa terhadap pelajaran.

Menurut Prof.Drs. Hartono Kasmadi M.Sc,bahwa dalam memilih media pembelajaranperlu mempertimbangkan empat hal yaitu: Produksi, peserta didik, isi dn guru.

  1. Pertimbangan produksi
    1. Availability yaitu ketersediaan bahan
    2. Cost (biaya) yang tinggi tidak menjamin penyusunan media menjadi tepat, akan tetapi tanpa biaya biasanya juga akan kurang berhasil.
    3. Physical Condition (kondisi fisik)
    4. Accesibility to student (mudah dicapai) artinya pembelian bahan hendaknya yang dwi fungsi dimana guru dapat menggunakan dan siswa dapat menggunakannya.
    5. Emotional impact artinya penggunaan media harus mampu bernilai estetika sebab akan lebih menarik untuk mnumbuhkan motivasi.
    6. Pertimbangan peserta didik
      1. Student characteristics (watak peserta didik) yaitu latar belakang dan tingkat kemampuan peserta didik.
      2. Student relevance (sesuai dengan peserta didik) artinya bahan yang relevan akan memberi nilai positif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pengaruhnya akan meningkatkan pengalama siswa, pengembangan pola pikir, analisis pelajaran hingga dapat menceritakan kembali pelajaran dengan baik.
      3. Student involvement (ketertiban peserta didik) artinya bahan digunakan akan memberikan kemampuanpeserta didik dan keterlibatan peserta didik secara fisik dan mental untuk meningkatkan potensi belajar.
      4. Pertimbangan isi
        1. Currilcullum relevance artinya penggunaan media harus sesuai dengan isi kurikulum, tujuannya harus jelas dan baik.
        2. Content soundness yaitu kejelian dalam memilih media agar media up to date:

1)      Pembelian yang efektif sesuai kebutuhan

2)      Pembelian hanya untuk reverensi bukan untuk demonstrasi

3)      Jika memungkinkan guru harus mampu untuk membuat sendiri media yang sesuai kebutuhan

  1. Presentation artinya bila isi sudah tepat dan sudah sesuai kebutuhan man cara menyajikannya juga harus benar.
  2. Pertimbangan guru
    1. Teacher utilization

Guru harus mampu mempertimbangkan dari segi pemanfaatan media yang bakan digunakan sebagai bahan pertimbangan adalah:

1)      Apakah digunakan untuk kepentingan individu atau kelompok.

2)      Apakah yang digunakan media tunggal atau multimedia.

3)      Lebih penting berorientasi pada tujuan pendidikan

  1. Teacher peace of mind artinya media yang digunakan mampu memecahkan masalah bukan malah menimbulkan masalah sehingga perlu observasi dan review bahan-bahan tersebut sebelum disajikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Media mendapat definisi lebih khusus, yakni “teknologi pembawa pesan (informasi) yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran”, atau sarana fisik untuk menyampaikan isi materi pembelajaran.Manfaat media dalam kegiatan pembelajaran adalah mempelancar proses interaksi antara guru dengan siswa, dalam hal ini membentu siswa belajar secar optimal.Jenis media antara lain media grafis, media audio dan media proyeksi diam. Media grafis termasuk media visual, contohnya yaitu gambar/foto, sketsa, diagram, bagan/chart, grafik, kartun, poster, peta dan globe.Media audio berkaitan dengan indera pendengaran, contohnya yaitu radio, alat perekam pita magnetik dan laboratorium bahasa.Media proyeksi diam memiliki kesamaan dengan media grafik dalam arti memyajikan rangsangan visual, contohnya yaitu film bingkai, film rangkain, media transparasi, proyeksi tak tembus pandang, mikrofis, film dan film gelang.Dalam pemilihan media pembelajaran ada hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan prioritas pengadaan media sehingga guru dalam menggunakan media pendidikan untuk mempertinggi kualitas pembelajaran.Selain itu menurut Prof.Drs. Hartono Kasmadi M.Sc,bahwa dalam memilih media pembelajaran perlu mempertimbangkan empat hal yaitu: Produksi, peserta didik, isi dn guru.

 

 

 

 

 

 

3 Desember 2011 Posted by | Uncategorized | Komentar Dimatikan

Metode pembelajaran


Beberapa pertimbangan yang mesti dilakukan oleh pengajar dalam memilih metode pengjaran secara tepat dan akurat, pertimbangan tersebut mesti berdasarkan pada penetapan:

1. Tujuan pembelajaran

Penetapan tujuan pembelajaran merupakan syarat mutlak bagi guru dalam memilih metode yang akan digunakan di dalam menyajikan materi pengajaran. Tujuan pembelajaran merupakan sasaran yang hendak dicapai pada akhir pengajaran, serta kemampuan yang harus dimiliki siswa. Sasarab tersebut dapat terwujud dengan menggunakan metode-metode pembelajaran. Misalnya, seorang guru akuntansi menetapkan tujuan pembelajaran, agar siswa dapat menyusun sebuah laporan keuangan dengan baik dan benar. Dalam hal ini metode yang dapat membantu siswa mencapai tujuan adalah metode ceramah, guru menjelaskan, memberikan contoh, memberi latihan untuk dapat menyusun laporan keuangan yang baik dan benar.

2. Pengetahuan awal siswa

Pada awal sebelum masuk ke kelas memberi materi pengajaran kepada siswa, ada tugas guru yang tidak boleh dilupakan adalah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa. Dengan mengetahui pengetahuan awal siswa, guru dapat menyusun strategi memilih metode pembelajaran yang tepat pada siswa-siswa. Metode yang dipergunakan , sangat tergantung juga pada pengetahuan awal siswa. Pengetahuan awal dapat berasal dari pokok bahasan yang akan kita ajarkan, jika siswa tidak memiliki prinsip, konsep, dan fakta atau memiliki pengalaman , maka kemungkinan besar belum dapat digunakna metode pembelajaran mandiri.

3. Bidang studi/pokok bahasan/aspek

Pada sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah menengah, program studi diatur dalam tiga kelompok, yaitu:

  1. Program pendidikan umum. Yang dikelompokan dalam program pendidikan umum adalah Bidang Studi Pendidikan Agama, PKn, Penjaskes, dan Kesenian
  2. Program pendidikan akademik. Yang dikelompokan dalam program pendidikan akademik adalah  Bidang Studi Bahasa, Ilmu Pengetahuan Sosial, Ilmu Pengetahuan Alam dan Matemetika
  3. Program pendidikan ketrampilan. Program pendidikan akademik bidang studinya berkaitan dengan ketrampilan.

4. Alokasi waktu dan sarana penunjang

Waktu yang tersedia dalam pemberian materi pelajaran satu jam pelajaran 45 menit, maka metode yang dipergunakan telah dirancang sebelumnya , termasuk di dalamnya perangkat penunjang pembelajaran, perangkat pembelajaran dapat dipergunakan oleh guru secara berulang-ulang.

5. Jumlah siswa

Idealnya metode yang kita terapkan di dalam  kelas melalui pertimbangan jumlah siswa yang hadir, memang ada ratio guru dan siswa agar proses belajar mengajr berhasil terutama penbgelolaan kelas dan penyampaian materi. Untuk ukuran besar dan jumlah siswa yang banyak metode ceramah yang lebih efektif akan tetapi yang perlu kita ingat metode ceramah banyak kelemahan dibandingkan dengan metode yang lain. Sedangkan kelas yang kecil dapat diterapkan metode tutorial karena pemberian umpan balik dengan cepat dilakukan  dan perhatian kebutuhan individual lebih dapat dipenuhi

6. Pengalaman dan kewibawaan pengajar

Guru  yang baik adalah guru yang berpengalaman, kriteria guru berpengalaman dia telah mengajar selama lebih kurang 10 tahun, maka berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 38 kriteria untuk dapat diangkat menduduki9 jabatan menjadi kepala sekolah, bila telah mengajar minimal 3 tahun untuk kepala Taman Kanak-kanak dan Raudatul Anfal, 5 tahun untuk kepala SD, SMP, MTs, SMA, SMK dan MA. Demikian guru harus mengatahui seluk beluk persekolahan , starata pendidikan bukan menjadi jaminan utama dalam keberhasilan mengajar akan tetapi pengalam yang menentukan , misalnya guru peka dengan masalah, memecahkan masalah, memilih metode yang tepat, merumuskan tujuan intruksional, memotivasi siswa, mengelola siswa, mendapat umpan balik dalam proses belajar mengajar.

Disamping guru berpengalaman dia harus berwibawa, kewibawaan merupakan kelangkapan mutlak yang bersifat abstrak bagi guru karena dia berhadapan dan mengelola siswa yang berbeda latar belakang akademik dan social, ia sosok tokh yang disegani bukan ditakuti oleh anak-anak didiknya. Kewibawaan ada pada orang dewasa, ia perlu dijaga dan berkembang mengikuti kedewasaan, ia perlu dijaga dan dirawat, kewibawaan mudah luntur oeleh perbuatan-perbuatan yang tercela pada diri masing-masing kita. Kewibawan yang dimiliki guru terbagi dua, yaitu:

  1. Kewibawaan kasih sayang. Seperti yang dimiliki ayah dan ibu, ia menyayangi anak-anaknya tanpa pilih kasih dan berharap anak-anaknya tumbuh berkembang berguna bagi agaman, masyarakat, nusa dan bangsa.
  2. Kewibawaan jabatan. Seperti pemimpin yang dapat memmerintah, mengatur, menasehati siswa yang berguna bagi manajemen pembelajaran.

Metode-metode pembelajaran

Metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan,memberikan contoh dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa buntuk mencapi tujuan tertentu. Berikut ini akan diutarakan berbagai metode pembelajaran yang dimungkinkan diterapkan di dalam kelas, yaitu:

a. Metode ceramah (lecture)

Metode ceramah ini berbentuk penjelasan konsep, prinsip, fakta, pada akhir perkuliahan ditutup dengan tanya jawab antara dosen dan mahasisawa, namun demikian pada sekolah tingkat lanjutan metode ceramah dapat dipergunakan oleh guru, dan metode ini divariasi dengan metode lain.

Metode ceramah dapat dilakukan oleh guru, yaitu:

  1. Untuk memberikan pengarahan, petujuk di awal pembelajaran
  2. Waktu terbatas, sedangkan materi/informasi bayak yang akan disampaikan
  3. Lembaga pendidikan sedikit memiliki staf pengajar sedangkan jumlah siswa banyak.

Keterbatasan metode ceramah yaitu sebagai berkut:

  1. Keberhasilan siswa tidak terukur
  2. Perhatian dan motivasi siswa sulit diukur
  3. Peran serta siswa dalam pembelajaran rendah
  4. Materi kurang terfokus
  5. Pembicaraan sering melantur

b. Metode Demonstrasi dan Eksperimen

Pengguanaan metode demontrsi dapat diterapkan dengan syarat memiliki keahlian untuk mendemontasikan pengguanaan alat atau melaksanaan kegiatan tertentu seperti kegiatan yang sesungguhnya. Keahlian mendemontrasikan tersebut harus dimiliki oleh guru, setelah didemontrasikan, siswa diberi kesempatan melakuakn latihan ketrampilan seperti yang telah diperagakan oleh guru.

Metode demonstrasi dapat dilaksanakan dengan:

  1. Pada kegiatan pembelajarn bersifat formal, magang atau latihan kerja.
  2. Bila materi pelajaran berbentuk ketrampilan gerak, petunjuk sederhana untuk melakukan keterampilan dengan mengguankan bahasa asing dan prosedur melaksanakan suatu kegiatan.
  3. Manakala guru bermaksud menyederhanakan penyelesaian kegiatan yang panjang, baik yang menyangkut pelaksanaan suatu prosedur maupun dasar teorinya.
  4. Pengajar bermaksud menunjukan standar penampilan.
  5. Untuk menumbuhkan motivasi siswa twntang praktek yang kita laksanakan.
  6. Untuk mengurangi kesalahan, karena siswa memperoleh gambaran yang jelas dari hasil penganatannya.
  7. Beberpa masalah menimbulkan pertanyaan pada siswa dapat dijawab lebih teliti waktu proses demontrasi.
  8. Bila siswa turut aktif berekperimen, maka ia akan memperoleh penglaman praktek untuk mengembangkan kecapakan dan memperoleh pengakuan dan pengharapan dari lingkungan sosial.

Batas-batas metode demontasi sebagai berikut:

  1. Merupakan metode yang tidak wajar bila alat yang didemontrasikan tidak dapat diamati dengan seksama oleh siswa.
  2. Akan menjadi kurang efektif bila tidak diikuti dengan sebuah aktivitas dimana para siswa sendiri dapat ikut bereksperimen dan menjadikan aktivitas itu pengalaman pribadi.
  3. Tidak semua hal dapat didemontrasikan di dalam kelompok.
  4. Terkadang bila suatu alat dibawa kedalam kelas kemudian dodemontrasikan, terjadi proses yang berlainan dengan proses dalam situasi nyata.
  5. Bila setipa orang diminta mendemontrasikan dapat menyita waktu yang lama dan membosnkan bagi peserta yang lain

c. Metode tanya jawab

Metode tanya jawab dapat dinilai sebagi metode yang tepat, apabila pelakswanaanya ditujukan untuk:

  1. Meninjau ulang pelajaran atau ceramah yang lalu. Agar siswa memusatkan lagi perhatian  pada jenis dan jumlah kemajuan yang telah dicapi sehingga mereka dapat melanjutkan pelajaranya.
  2. Menyelingi pembicaraan agar tetap mendapatkan perhatian siswa, atau dengan perkataan lain untuk mengikut sertakan mereka.
  3. Mengarahkan pengamatan dan pemikiran mereka.

Metode tanya jawab tidak wajar digunakan untuk:

  1. Menilai kemajuan peserta didik
  2. Mencari jawaban dari siwa, tetapi membatasi jawaban yang diterima
  3. Memberi giliran pada siswa tertentu.

Kebaiakan metode tanya jawab,yaitu:

  1. Tanya jawab dapat memperoleh sambutan yang lebih aktif bila dibandingkan dengan metode ceramah yang bersifat menolong
  2. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pendapat sehingga nampak mana yang belum jelas atau belum dimengerti.
  3. Mengetahui perbedaan pendapat yang ada, yang dapat dibawa kea rah diskusi.

Sedangkan kelemahanya adalah tanya jawab bisa menimbulkan penyimpangan dari pokok persoalan.

d. Metode penampilan

Metode penampilan adalah berbentuk pelaksanaan praktik oleh siswa di bawah bimbingan dari dekat oleh pengajar.

Metode ini digunakan pengajar harus:

  1. Memberikan penjelasan yang cukup kepada siswa selama siswa berpraktek.
  2. Melakuakn tindakan pengamatan sebelum kegiatan praktik dimulai untuk keselamatan siswa yang digunakan

Metode penampilan ini tepat digunakan manakala:

  1. Pelajaran telah mencapi tigkat lanjuatan
  2. Kegiatan pembelajaran bersifat formal, latihan kerja,atau magang
  3. Siswa mendapat kemungkian untuk menerapkan apa yang dipelajarinya ke dalam situasi sesungguhnya
  4. Kondisi praktek sama dengan kondisi kerja
  5. Dapat disediakan bimbingan kepada siswa secara dekat selama praktik
  6. Kegiatan ini menjadi remedial bagi siswa

Keterbatasn penggunaan metode penampilan adalah:

  1. Membutuhkan waktu yang panjang, karena siswa harus mendapatkan kesempatan berpraktek sampai baik
  2. Membutuhkan fasilitas dan alat khusus yang mungkin mahal, sulit diperoleh dan dipelihara secara terus menerus.
  3. Membutuhkan pengajaran yang lebih banyak, karena setiap pengajaran hanya dapat membantu sejumlah kecil siswa.

e. Metode diskusi

Metode diskusi merupakan interaksi antara siswa dan siswa atau siswa dengan guru untuk menganalisis, memecahkan masalah, mengali atau memperdebatkan topic atau permasalah tertentu.

Metode diskusi ini digunakan oleh guru, pelatih dan instruksi bila:

  1. Menyediakan bahan, topik, atau masalah yang akan didiskusikan
  2. Menyebutkan pokok-pokok masalah yang akan dibahas atau memberikan studi khusus kepada siswa sebelum menyelenggarakan diskusi.
  3. Menugaskan siswa untuk menjelaskan, menganalisis dan meringakas
  4. Membimbing diskusi, tidak meberi ceramah
  5.  Sabar terhadap kelompok yang lamban dalam mendiskusikannya
  6. Wasapada terhadap kelompok yang tampak kebingan atau berjalan dengan tidak menentu
  7. Melatih siswa dalam menghargai pendapat orang lain

Metode diskusi dapat digunakan bila

  1. Siswa berada ditahap menengah atau thap akhir proses belajar
  2. Pelajaran formal atau magang
  3. Perluasana pengetahuan yang telah dikuasai siswa
  4. Belajar mengidentifikasi dan memecahkan masalah serta mengambil keputusan
  5.  Membiasakan siswa berhadapan dengan berbagi pendekatan, interpretasi da kepribadian
  6. Menghadapi masalah secara  berkelompok
  7. Membiasakan siswa untuk beragumentasi dan berfikir rasional.

Keterbatasan metode diskusi:

  1. Menyita waktu lama dan jumlah siswa harus sedikit
  2. Mempersyaratkan siswa memiliki latar belakangan yang cukup tentang topic atau masalah yang didiskusikan
  3. Metode ini tidak tepat digunakan pada tahap awal proses belajar bila siswa baru diperkenalkan kepada bahan pembelajaran baru
  4. Apatis bagi siswa yang tidak terbiasa berbicara dalam forum

f. Metode  studi mandiri

Metode studi mandiri bebrbentuk pelaksanan tugan membaca atau penelitian oleh siswa tanpa bimbingan atau pengajaran khusus. Metode ini dilakuakan dengan cara:

  1. Memberikan daftar bacaan kepada siswa yang sesuai dengan kebutuhanya
  2. Menjelaskan hasil yang diharapkan dicapai oleh siswa pada akhir kegiatan studi mandiri
  3.  Mempersiapakan tes untuk menilai keberhasilan siswa

Metode ini tepat digunakan manakala:

  1. Pada tahap akhir proses belajar
  2. Dapat digunakan pada semua mata pelajaran
  3. Menunjang metode pembelajaran yang lain
  4. Meningkatkan kemampuan kerja siswa
  5. Mempersiapkan siswa untuk kenaikan tingkat atau jabatan
  6. Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperdalam minatnya tanpa dicampuri siswa lain.

g. Metode pembelajaran terprogram

Metode pembelajaran terprogram menggunakn bahan pengajaran yang disiapkan secara khusus. Siswa mendapat kebebasan untuk belajar menurut kecepetan masing-masing.

Metode ini tatkala dipergunakan perlu memperhatikan:

  1. Siswa harus benar-benar memiliki seluruh bahan, alat-alat dan perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pelajaran tersebut.
  2. Siswa harus benar-benar tahu bahwa bahan itu bukan tes.
  3. Tersedia sumber yang dapat membantu siswa bila ia mengalami kesulitan.
  4. Secara periodic, siswa harus dicek kemapuanya untuk membuatnya benar-benar belajar

Metode ini tepat diterpkan bila:

  1. Kurang mendapat interaksi social
  2. Semua tahap belajar, dari permulaan sampai dengan proses akhir belajar siswa
  3. Pelajaran formal, belajar jarak jauh dan magang
  4. Mengatasi kesulitan perbedaan individual

Metode ini memiliki keterbatasan sebagai berikut:

  1. Bahan pelajaran yang telah dikumpulak dengan baik membuat setiap siswa melalui urutan kegiatan belajar
  2. Biaya pengembangan tinggi
  3. Siswa kurang dapat interaksi social

h. Metode latihan Bersama Teman

Metode latihan bersama teman memanfaatkan siwa yang telah lulus atau berhasil untuk melatih temanya dan ia bertindak sebagai pelatih, dan pembimbing seorang siswa yang lain.

Dalam melaksanaan metode ini perlu diperhatikan hal-hal sebagi berikut:

  1. Siswa memperhatikan seorang siswa yang telah mencapai tingkat lanjut dalam melaksanakan semua tugas dibawah bimbingan pelatih.
  2. Setelah mengenal tugas tersebut, siswa dilatih dalam ketrampilan melakuaknya
  3. Setelah lulus tes, ia menjadi pelatih untuk siswa berikutnya.

Metode ini dapat dilaksanakan bila:

  1. Semua tahap yang membutuhkan latihan satu per satu
  2. Latihan kerja, latihan formal dan magang

Metode ini memiliki kelemahan sebahi berikut:

  1. Terbatasnya siswa yang dapat dilatih dalam satu periode tertentu
  2. Kegiatan latihan harus senantiasa dikontrol secara langsung untuk memelihara kualitas

i. Metode simulasi

Metode simulasi ini menampilkan simbol-simbol atau peralatan yang menggantikan proses, kejadian, atau benda yang sebenarnya.

Penggunaan metode simulasi ini perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Pada tahap permulaan proses belajar, diperlukan tingkat di bawah realitas.
  2. Pada tahap pertengahan proses belajar, diperlukan tingkat realitas yang memadai.
  3. Pada tahap akhir, diperlukan tingkat realitas yang tinggi.
  4. Siswa diharapkan dapat melakukan pekerjaan seperti seharusnya.

Metode ini dapat dilakuakn bila:

  1. Semua tahap belajar
  2. Pendidikan formal atau magang
  3. Memberikan kegiatan-kegiatan yang analogis
  4. Memungkinkan praktek dan umpan balik dengan resiko kecil
  5. Diprogramkan sebagai alat pelajaran mandiri

Metode ini memilih kelemahan sebagi berikut:

  1. Biaya pengembangannya tinggi dan perlu waktu lama
  2. Fasilitas dan alat-alat khusus yang dibutuhkan mungkin sulit diperoleh serta mahal harga dan pemeliharaanya
  3. Resiko siswa atau pengajar tinggi

j. Metode pemecahan masalah

Metode pemecahan masalah juga dikenal Metode Brainstorming, ia merupakan metode yang merangsang berfikir dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan oleh siswa.

Metode ini dapat dilaksanakan apabila ssiwa telah berada pada tingkat yang lebih tinggi dengan prestasi yang tinggi pula, tetapi metode ini perlu diwaspadai karena akan menimbulkan prustasi di kalangan siswa lantaran masing-masing mereka belum dapat menemui solusinya dari proses yang kita lakukan. Akan tetepi guru dapat mengambarkan bahwa yang diminta adalah buah berfikir dengan alasan-alasan rasional.

k. Metode studi kasus

Metode ini berbentuk penjelasan tentang masalah, kejadian atau situasi tertentu, kemudian siswa ditugasi mencari alternatif pemecahannya. Kemudian metode ini dapat juga digunakan untuk mengembangkan berfikir kritis dan menentukan solusi baru dari suatu topic yang dipecahkan.

Metode ini memiliki keterbatasan sebagi berikut:

  1. Mendapatkan kasus yang telah ditulis dengan baik sebagai hasil penelitian lapangan dan sesuai dengan lingkungan kehidupan siswa.
  2. Mengembangkan kasus sangat mahal.

l. Metode Insiden

Metode ini hampir sama dengan metode studi kasus, akan tetapi siswa dibekali dengan data dasar yang tidak lengkap tentang sutau kejadian atau peristiwa. Mereka harus mencari data tambahan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka. Data tersebut sudah tersedia di sekolah da nada pada guru.

Metode ini memiliki keungguluan dibandingkan metode studi kasus, siswa belajar mnyelami permasalahan,  kemudian mereka berusaha untuk memecahkan masalah yaitu menumbuh kembangkan cara berfikir siswa sebagimana yang dikehendaki pada studi mandiri, siswa berfikir kritis, kreatif.

m. Metode praktikum

Metode praktikum diberikan kepada siswa setelah guru memberikan arahan, aba-aba, petunjuk untuk melaksanakanya. Kegiatan ini berbentuk praktik dengan mempergunakan alat, guru melatih siswa dalam pengunaan alat-alat yang telah diberikan kepadanya serta hasil yang dicapainya.

n. Metode Proyek

Metode proyek merupakan pemberian tugas kepada semua siswa untuk dikerjakan secara individual. Siswa dituntut untuk mengamati, membaca, mneliti. Kemudian siswa diminta membuat laporan dari tugas yang berbentuk makalah. Metode ini bertujuan membentuk analisis masing-masing siswa.

o. Metode bermain peran

Metode bermain peran adalah metode yang melibatkan interaksi antara dua siswa atu lebih tentang suatu topik atau situasi. Sisawa melakuakn peran masing-masing sesuai dengan tokoh yang dilakoni, mereka berinteraksi sesame untuk melakuakn peren terbuka. Metode ini menuntut guru untuk mencermati kekurangan dari peran yang diperagakan siswa.

p. Metode seminar

Metode ini merupakan kegiatan belajar sekelompok siswa untuk membahas topic, maslah tertentu. Setiap anggita kelompok seminar dituntut berperan aktif dan mereka dibebankan tanggung jawab untuk mendapat solusi dari topik. Guru berperan sebagai narasumber. Seminar merupakan pembahasan yang bersifat ilmiah, topic pembicaraan adalah hal-hal yang bertalian dengan kehidupan sehari-hari. Sebuah seminar adalah sebuah kegiatan pembahasan yang mencari pedoman masalah tertentu. Tidak jarang seminar melahirkan rekomendari dan resolusi.

q. Metode simposium

Metode simposium adalah metode yang memaparkan suatu seri pembicaraan dalam berbagai kelompok topik dalam bidang materi tertentu.materi tersebut disampaikan oleh ahli dalam bidangnya, setelah itu peserta dapat menyampaikan pertanyaan dan sebaginya kepada pembicara. Simposium hampir menyerupai panel. Tetapi simposium berbeda dengan panel di dalam cara pembahasan persoalan. Sifatnya lebih formal.

Bentuk lain pola symposium dapat dikelompokan pada sejumlah aspek disoroti tersendiri dan khusus tidak perlu dari berbagai sudut pandang.

l. Metode tutorial

Metode tutorial merupakan cara menyampaikan bahan pelajaran yang telah dikembangkan dalam bentuk modul untuk dipelajari siswa secara mandiri. Siswa  dapat berkonsultasi tentang maslah-masalah yang ditemuinya secara periodic

m. Metode deduktif

Metode deduktif merupakan pemberian penjelasan tentang prinsip-prinsip isi pelajaran, kemusdian dijelaskan dalam bentuk penerapan pada situasi tertentu. Metode ini menjelaskan hal-hal yang bersifat umum ke yang bersifat khusus. Guru menjelaskan teori yang ditemukan para ahli kemudian menjabarkan dalam kenyataan yang terjadi.

Metode ini tepat digunakan apabila:

  1. Siswa belum mengenal pengetahuan yang sedang dipelajari.
  2. Isi pelaraan meliputi terminologi, teknis dan bidang yang kurang membutuhkan proses berpikir kritis.
  3. Pengajaran mengenai pelajaran tersebut mempunyai persiapan yang baik dan pembicaraan yang baik.
  4. Waktu yang tersedia sedikit.

n. Metode induktif

Metode indutif dimulai denagn pemberian berbagi kasus, fakta, contoh atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau prinsip. Kemudian siswa dibimbing untuk berusaha eras mensitensiskan, menemukan atau menyimpulakn prinsip dasar dari pelajaran tersebut.

Metode ini dapat digunalan manakala:

  1. Siswa telah mengenal atau telah memiliki pengalaman yang berhubungan denagn mata pelajarn tersebut.
  2. Yang diajarkan berupa ketetampilan komunikasi antar pribadi, sikap, pemecahan dan penganbilan keputusan.
  3. Pengajar mempunyai ketrampilan fleksibel, termpil mengajukan pertanyaan dan sabar.
  4. Waktu yang tersedia cukup panjang.

o. Metode computer assisted learning

Metode ini digunakn untuk kegiatan belajar yang berstruktur, di mana computer deprogram dengan permaslahan-permaslahan. Siswa dimina untuk memecahkan maslah tersebut dengn mempergunakn computer dan seketika itu juga jawaban siswa diproses secara elektronik. CAL memberikan siswa untuk maju sesuai dengan kecepatan masing-masing. Metode ini dapt dipergunakn pada setiap tingkat pengetahuan dari yang sederhana sampai pada tingakt yang paling kompleks.

Kesulitan pengguanan metode ini:

  1. Pengembangan program CAL membuat biaya tinggi dan waktu yang lama.
  2. Pengadaan dan pemeliharaan alat yang mahal.

 

18 November 2011 Posted by | Uncategorized | Komentar Dimatikan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.