R-na3Setya's Blog

Just another WordPress.com weblog

pengauditan


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Ketika Mendengar kata Akuntan Publik mungkin yang pertama kali muncul dalam benak orang awam adalah sama seperti akuntan-akuntan yang bekerja di dalam perusahaan. Kenyataanya adalah tidak demikian adanya. Akuntan Publik adalah suatu Profesi Yang bersifat Independent dan tidak memiliki suatu kepentingan atas clientnya. Akuntan publik sendiri bisa terdiri dari Auditor independent yang memberikan penilaian yang sesungguhnya atas laporan keuangan suatu perusahaan. Ataupun Mmberikan jasa-jasa lainnya yang hubungannya dengan kinerja dan pelaporan suatu entitas.

Tujuan menyeluruh audit laporan keuangan adalah menyatakan pendapat tentang apakah laporan keuangan klien telah menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesauai dengan prinsip akuntansi berterima umum atau dikenal dengan GAAP. Untuk itu, auditor harus memperoleh bahan bukti yang yang cukup dan kompeten sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat. Di dalam makalah ini akan sedikit dikupas mengenai Profesi Akuntan Publik disertai dengan contoh kasus yang berkaitan dengan Independensi dari Profesi Akuntan Publik.

B.     Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud pengauditan dan jenis-jenisnya?
  2. Bagaimana etika dan moralitas akuntan publik?
  3. Bagaimana asersi manajemen mengenai pengauditan?
  4. Seperti apa bukti-bukti yang terdapat dalam audit?
  5. Bagaimana yang dimaksud resiko audit?
  1. Bagaimana tahapan kegiatan dalam audit laporan keungan?

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Dasar Pengauditan

Pengauditan adalah suatu proses sistimatis untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti-bukti yang berhubungan dengan asersi tentang tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi secara obyektif untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Jenis-jenis audit:

  1. Audit laporan keuangan.

Audit ini dilakukan untuk menentukan apakah laporan keuangan sebaga keseluruhan yaitu informasi kuantitatif yang akan di periksa dinyatakan sesuai dengan kriteria tertentu yang telah di tetapkan.

  1. Audit kesesuaian

Tujuan audit kesesuaian adalah untuk menentukan apakah pihak yang diaudit telah mengikuti proseduratau aturan tertentu yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang.

  1. Audit operasioanal

Audit oprasioanal  adalah pengkajian atas dari setiap bagian dari prosedur dan metode yang ditetapkan suatu organisasi dengan tujuan untuk mengevaluasi, evesiensi dan efektivitas.

Jenis-jenis auditor:

  1. Auditor pemerintah

Auditor pemerintah dalah auditor yang bertugas melakukan audit atas keuangan Negara pada instansi-instansi pemerintah. Di Indonesia audit ini dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

  1. Auditor intern

Auditor intern adalah yang bekerja pada suatu perusahaan dan oleh karenanya berstatus sebagai pegawai pada perusahaan tersebut.

  1. Auditor Independen atau Akuntan Publik

Akuntan Publik adalah seorang praktisi dan gelar profesional yang diberikan kepada akuntan di Indonesia yang telah mendapatkan izin dari Menteri Keuangan RI untuk memberikan jasa audit umum dan review atas laporan keuangan, audit kinerja dan audit khusus serta jasa dalam bidang non-atestasi lainnya seperti jasa konsultasi, jasa kompilasi, dan jasa-jasa lainnya yang berhubungan dengan akuntansi dan keuangan.

Standar profesi akuntan publik:

1.      Satandar Auditing merupakan pedoman audit atas laporan keuangan historis Standar Auditing terdiri atas 10 standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Auditing (PSA)

2.      Standar Atesrasi memberikan rerangka untuk fungsi atestasi bagi jasa akuntan public yang mencakup tingkat keyakinan tertinggi yang diberikan dalam jasa audit atas laporan keungan historis maupun tingkat keyakinan yang lebih rendah dalam jasa non audit.

3.      Satandar Jasa Akuntasi dan Review memberikan rerangka untuk fungsi non atestasi bagi jasa akuntan publik yang mencakup jasa akuntansi atau review.

4.      Pedoman Audit Industri Khusus. Karena beberapa industri memiliki operasi yang unik yang berdampak terhadap berbagai teransaksi yang dicatat dalam akuntasi, maka auditor memerlukan pedoman untuk melakukan audit terhadap industri tertentu.

B.     Etika dan Moralitas Akuntan Publik

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata “etika” yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berpikir. stilah Moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata ”moral” yaitu mos sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Bila kita membandingkan dengan arti kata ”etika”, maka secara etimologis, kata ”etika” sama dengan kata ”moral” karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan,adat. Dengan kata lain, kalau arti kata ’moral’ sama dengan kata ”etika”, maka rumusan arti kata ”moral” adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.

  1. Etika Umum

a.       Ethical Absolutists berpendapat bahwa ada prinsip universal yang diterapkan pada setiap orang yang tidak berubah sepanjang masa.

b.      Ethical Relativists berpendapat bahwa pertimbangan etis ditentukan oleh perubahan kebiasaan dan tradisi yang berlakudi dalam masyarakat di mana mereka hidup.

  1. Etika Profesional

Lebih luas dari prinsip moral dan mencakup perilaku untuk  profesional dan didesain untuk tujuan praktis maupun idealis

a.       Tanggungjawab profesi

b.      Kepentingan publik

c.       Integritas

d.      Obyektivitas

e.       Kompetensi dan kehati-hatian

f.       Kerahasiaan

g.      Perilaku profesional

h.      Standar teknis

C.    Asersi Manajemen

Tujuan menyeluruh dari audit laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien telah menyatakan secara wajar, dalam hal yang material, sesuai dengan GAAP. Laporan keuangan terdiri dari asersi manajemen yang eksplisit dan implisit.

Auditing Standart Board (ASB) dalam SAS 31, Evidential Matter (AU 326.03), telah mengakui lima kategori asersi laporan keuangan sebagai berikut:

1.      Keberadaan atau Keterjadian (existence or  occurrence). Asersi tentang keberadaan dan keterjadian berhubungan dengan apakah aktiva atau utang satuan usaha ada pada tanggal tetrtentu dan apakah transaksi yang dicatat telah terjadi selama periode tertentu.

2.      Kelengkapan (Completeness). Asersi tentang kelengkapan berhubungan dengan apakah semua transaksi atau semua rekening (account) yang seharusnya disajikan dalam laporan keungan yang telah dicantumkan di dalamnya. Asersi tentang kelengkapan berhubungan dengan apakah

3.      Hak dan kewajiban (right and obligations). Asersi tentang hak dan kewajiban berhubungan dengan apakah aktiva merupakan hak perusahaan dan utang merupakan kewajiban perusahaan pada tanggal tertentu.

4.      Penilaian atau alokasi (valuation or allocation). Asersi tentang penilaian atau alokasi berhubungan dengan apakah komponen-komponen aktiva, kewajiban pendapatan dan biaya sudah sicantumkan dalam laporab keungan pada jumlah semestinya.

5.      Penyajian dan Pengungkapan (Presentation and Disclosure). Asersi tentang penyajian dan pengungkapan berhubungan dengan apakah komponen-komponen tertentu laporan keungan diklasifikasikan,dijelaskan dan diungkapkan semestinya.

D.    Bukti Audit

Bukti audit (Evidential matter) sangat mudah mempengaruhi  sifat pekerjaan audit yang tercantum pada standar ketiga pekerjaan lapangan dari standar auditing yang berlaku umum(GAAS).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertimbangan auditor atas kecukupan meliputi :

1.      Materialitas dan risiko. Diperlukan bukti lebih banyak untuk rekening dalam laporan keuanga yang material, dibandingkan rekening yang tidak material.

2.      Faktor-faktor Ekonomi. Auditor bekerja dalam batasan biaya tertentu sehingga ia harus mengupayakan agar bisa meperoleh bukti kompeten yang cukup dalam jangka waktu pemeriksaan yang wajar dan dengan biya yang wajar pula.

3.      Ukuran dan Karakteristik populasi. Mengingat besarnya populasi data akuntansi yang merupakan sumber penyusutan laporan keungan, maka auditor biasanya menerapkan teknik sampling. Umumnya semakin besar populasi, semakin banyak jumlah bukti yang diperlukan untuk memperoleh dasar yang memadai untuk mencapai kesimpulan.

Kompetensi informasi penguat bergantung pada banyak faktor, Pertimbangan yang telah diterapkan secara luas dalam auditing adalah:

1.      Relevensi (relevance) bahwa bukti yang ditemukan harus berkaitan dengan tujuan audit.

2.      Sumber (source)

3.      Ketepatan Waktu (timeliness) berkaitan dengan tanggal suatu bukti bisa diterapkan. Ketepatan waktu dan bukti menjadi penting terutama di dalam pemeriksaan atas aktiva lancer, utang lancer dan saldo-saldo pendapatan serta biaya.

4.      Objektivitas (Objectivity)

Prosedur audit biasanya diklasifikasikan menurut tujuan audit dalam kategori sebagai berikut:

  1. Prosedur untuk  memperoleh pemahaman atas bisnis klien berikut stuktur pengendalian internya
  2. Pengujian pengendalian
  3. Pengujian substantive (prosedur analitis, pengujian detil transaksi dan pengujian detil saldo-saldo)

E.     Tahapan Kegiatan Dalam Audit Laporan Keuangan

  1. Penerimaan penugasan audit

Mengambil keputusan untuk menerima atau menolak suatu kesempatan menjadi auditor untuk klien baru, atau untuk melanjutkan sebagi auditor bsgi klien yang sudah ada. Pada umumnya keputusan untuk menerima atau menolak dilakukan sejak enam hingga sembilan bulan sebelum akhir tahun buku yang akan diperiksa.

  1. Perencanaan audit

Perencanaan merupakan tahap yang cukup sulit dan menentuksn keberhasilan penugasan audit. Perencanan audit biasanya dilakukan antara tiga hingga enam bulan sebelum akhir buku klien.

  1. Pelaksanaan pengujian audit (audit test)

Tujuan utama tahap audit ini adalah mendapatkan bukti audit mengenai efektivitas struktur pengendalian intern klien dan kewajiaban laporan keungannya.

  1. Pelaporan temuan.

Laporan audit bisa berupa laporan standar yaitu laporan audit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian , atau bisa juga menyimpang dari laporan standar.

Komunikasi temuan-temuan audit dapat dibagi menjadi  3 kategori, yaitu:

  1. Komunikasi tentang laporan keuangan melalui laporan auditor
  2. Komunikasi lain yang diperlukan dengan manajemen
  3. Komunikasi temuan-temuan lain

Laporan Pertanggungjawaban Manajemen

  1. Manajemen bertanggung jawab untuk menyusun laporan keuangan, sedangkan auditor bertanggung jawab untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Auditor menekankan adanya pembagian tanggung jawab.
  2. Untuk menyoroti lebih jauh tentang pembagian tanggung jawab antara manajemen dan auditor independen, banyak perusahaan menyertakan laporan pertanggung jawaban manajemen dalam laporan tahunan kepada para pemegang saham.

Kecenderungan Yang mempengaruhi Tanggung Jawab Auditor

  1. Dalam proyek penelitian pelaporan bisnis yang sedang dilaksanakan oleh FASB, disebutkan bahwa perubahan dalam model pelaporan keuangan dapat berdampak pada perubahan proses audit serta tanggung jawab auditor.
  2. Kecenderungan-kecenderungan tersebut antara lain :

a.       Teknologi Informasi

b.      Asurance Services

F.     Risiko Audit

Risiko audit (audit risk) adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor tanpa disadar tidak melakukan modifikasi pendapat sebagaimana mestinya atas laporan keuangan yang mengandung salah saji material.Para auditor menguraikan risiko audit sebagai suatu fungsi dari 3 komponen yaitu:

  1. Risiko Bawaan (inherent risk) adalah kerentanan suatu saldo rekening atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji yang material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern terkait.
  2. Risiko Pengendalian (control risk) adalah risiko bahwa suatu salah saji material yang dapat terjadi dalam suatu asersi tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh struktur pengendalaian intern satuan usaha.
  3. Risiko Deteksi (detection risk) adalah risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi.

Terdapat model risiko audit yangmenyatakan hubungan antara komponen-komponen risiko audit sebagai berikut:

RA = RBxRPXRD

Keterangan:

RA= Risiko Audit

RB= Risiko Bawaan

RP= Risiko Pengendalian

RD= Risiko Deteksi

BAB II

PENUTUP

 

Kesimpulan

  1. Pengauditan adalah suatu proses sistimatis untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti-bukti yang berhubungan dengan asersi tentang tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi secara obyektif untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
  2. Tujuan menyeluruh dari audit laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien telah menyatakan secara wajar, dalam hal yang material, sesuai dengan GAAP.
  3. Bukti audit (Evidential matter) sangat mudah mempengaruhi  sifat pekerjaan audit yang tercantum pada standar ketiga pekerjaan lapangan dari standar auditing yang berlaku umum(GAAS).
  4. Tahapan Kegiatan Dalam Audit Laporan Keaungan: Penerimaan penugasan audit, Perencanaan audit, Pelaksanaan pengujian audit (audit test) dan Pelaporan temuan.
  5. Risiko audit (audit risk) adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor tanpa disadar tidak melakukan modifikasi pendapat sebagaimana mestinya atas laporan keuangan yang mengandung salah saji material.
About these ads

14 Juni 2011 - Posted by | Uncategorized

Maaf, form komentar ditutup saat ini.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: