Kasus Pengauditan


BAB I

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Ketika Mendengar kata Akuntan Publik Mungkin Yang pertama kali muncul dalam benak orang awam adalah sama seperti akuntan-akuntan yang bekerja di dalam perusahaan. Kenyataanya adalah tidak demikian adanya. Akuntan Publik adalah suatu Profesi Yang bersifat Independent dan tidak memiliki suatu kepentingan atas clientnya. Akuntan publik sendiri bisa terdiri dari Auditor independent yang memberikan penilaian yang sesungguhnya atas laporan keuangan suatu perusahaan. Ataupun Mmberikan jasa-jasa lainnya yang hubungannya dengan kinerja dan pelaporan suatu entitas.

Tujuan menyeluruh audit laporan keuangan adalah menyatakan pendapat tentang apakah laporan keuangan klien telah menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesauai dengan prinsip akuntansi berterima umum atau dikenal dengan GAAP. Untuk itu, auditor harus memperoleh bahan bukti yang yang cukup dan kompeten sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat. Di dalam makalah ini akan sedikit dikupas mengenai Profesi Akuntan Publik disertai dengan contoh kasus yang berkaitan dengan Independensi dari Profesi Akuntan Publik.

B.     Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud akuntan publik!
  2. Bagaimana contoh permasalahan yang sebagai seorang akuntan publik!
  3. Apa saja syarat menjadi seorang auditor!
  4. Bagaimana hubungannya dengan Prinsip auditor!
  5. Bagaimana standar menjadi seorang auditor!


BAB II

PEMBAHASAN

 A.    Pengertian Akuntan Publik

Akuntan Publik adalah seorang praktisi dan gelar profesional yang diberikan kepada akuntan di Indonesia yang telah mendapatkan izin dari Menteri Keuangan RI untuk memberikan jasa audit umum dan review atas laporan keuangan, audit kinerja dan audit khusus serta jasa dalam bidang non-atestasi lainnya seperti jasa konsultasi, jasa kompilasi, dan jasa-jasa lainnya yang berhubungan dengan akuntansi dan keuangan.

Ketentuan mengenai praktek Akuntan di Indonesia diatur dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 1954 yang mensyaratkan bahwa gelar akuntan hanya dapat dipakai oleh mereka yang telah menyelesaikan pendidikannya dari perguruan tinggi dan telah terdaftar pada Departemen keuangan R.I.

Untuk dapat menjalankan profesinya sebagai akuntan publik di Indonesia, seorang akuntan harus lulus dalam ujian profesi yang dinamakan Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP) dan kepada lulusannya berhak memperoleh sebutan “Bersertifikat Akuntan Publik” (BAP). Sertifikat akan dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Sertifikat Akuntan Publik tersebut merupakan salah satu persyaratan utama untuk mendapatkan izin praktik sebagai Akuntan Publik dari Departemen Keuangan.

Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dimaksud dengan criteria-kriteria yang telah ditetapkan. Auditing seharusnya dilakukan oleh seorang yang independen dan kompeten.

B.     Kasus Pelanggaran Akuntan Publik

Kelompok kami mengambil contoh masalah popular yang berhubungan dengan Profesi akuntan Publik yaitu kasus Keterlibatan Akuntan Publik ternama di Amerika yaitu Arthur Andersen  cabang Huston, Texas. Di balik kecurangan / Kebohongan publik yang dilakukan oleh Perusahaan Raksasa Amerika yaitu Enron. Sangat ironis sekali Bayangkan, sebuah perusahaan beromzet US$ 100 miliar sekonyong-konyong kolaps dan harus menanggung rugi tak kurang dari $ 50 miliar. Dibandingkan dengan harga pada Agustus 2000, harga sahamnya terjungkal hingga tinggal seperduaratusnya. Simpanan dana pensiun $ 1 miliar milik 7.500 karyawan amblas karena manajemen Enron menanamkan dana tabungan karyawan itu untuk membeli sahamnya sendiri. Pelaku pasar modal kehilangan $ 32 miliar. Inilah sebuah rekor kebangkrutan bisnis terburuk di Amerika sepanjang sejarah. Ironisnya, tragedi ini justru terjadi di negeri yang otoritas pasar modalnya sangat ketat menerapkan standar transparansi dan pembeberan (disclosure) bagi perusahaan publik.  Kontroversi demi kontroversi segera saja mengiringi proses penyelidikan sebab-sebab kebangkrutan itu. Pertama-tama, diketahui bahwa manajemen Enron telah melakukan window dressing, memanipulasi angka-angka laporan keuangan agar kinerjanya tampak kinclong. Tak kepalang tanggung, pendapatan di-mark-up dengan $ 600 juta, dan utangnya senilai $ 1,2 miliar disembunyikan dengan teknik off-balance sheet. Auditor Enron, Arthur Andersen kantor Huston, dipersalahkan karena ikut membantu proses rekayasa keuangan tingkat tinggi itu. Manipulasi ini telah berlangsung bertahun-tahun, sampai Sherron Watskin, salah satu eksekutif Enron yang tak tahan lagi terlibat dalam manipulasi itu, mulai “berteriak” melaporkan praktek tidak terpuji itu. Keberanian Watskin yang juga pernah bekerja di Andersen inilah yang membuat semuanya menjadi terbuka.  Kontroversi lainnya adalah mundurnya beberapa eksekutif terkemuka Enron dan “dipecatnya” sejumlah partner Andersen. Terbongkar juga kisah pemusnahan ribuan surat elektronik dan dokumen lainnya yang berhubungan dengan audit Enron oleh petinggi di firma audit Arthur Andersen. Kini, Arthur Andersen sedang berjuang keras menghadapi serangan bertubi-tubi, bahkan berbagai tuntutan di pengadilan. Diperkirakan tak kurang dari $ 32 miliar  harus disediakan Arthur Andersen untuk dibayarkan kepada para pemegang saham Enron yang merasa dirugikan karena auditnya yang tidak becus. Ratusan mantan karyawan yang marah juga sudah melayangkan gugatan kepada Andersen, yang tentu akan menambah beban Andersen. Di luar itu, otoritas pasar modal dan hukum Amerika Serikat pasti akan memberi sanksi berat jika tuduhan malapraktek itu terbukti. Majalah Business Week mensinyalir kecilnya peluang Arthur Andersen untuk bertahan karena beratnya risiko yang harus dihadapi akibat malapraktek itu. Cerita tak berhenti sampai di sini. Belakangan, salah satu mantan petinggi Enron tewas bunuh diri karena tak tahan menghadapi tekanan bertubi-tubi. Ibarat telah menabur angin, berbagai pihak yang dahulu asyik memetik keuntungan haram kini sibuk menuai badai.  Menghadapi fakta-fakta dramatis di atas, para akuntan publik pasti bertanya: apakah fair menuduh profesi akuntan publik sebagai pihak yang paling bertanggung jawab? Sejumlah pertanyaan susulan juga dikemukakan: bukankah manajemen perusahaan yang mengambil keputusan? Bukankah ada penasihat keuangan yang turut merancang skenario rekayasa? Di mana peran penasihat hukum yang ikut “mengamankan” aspek legalnya? Bagaimana dengan akuntan internal yang mengerjakan langkah demi langkah rekayasa culas itu? Menjawab pertanyaan itu, tentu tidak adil menuduh auditor independen sebagai satu-satunya pihak yang harus bertanggung jawab. Skandal Enron, tak bisa dimungkiri, merupakan kejahatan ekonomi multidisiplin. Segelintir penguasa informasi telah menipu banyak pihak yang sangat awam tentang seluk-beluk transaksi keuangan perusahaan. Mereka terdiri dari para profesional-CEO, akuntan, auditor, pengacara, bankir, dan analis keuangan-yang telah mengkhianati tugas mulianya sebagai penjaga kepentingan publik yang tak berdosa.
Meskipun bangkrutnya sebuah usaha menjadi tanggung jawab banyak pihak, dalam kedudukannya sebagai auditor, tanggung jawab Arthur Andersen dalam kasus Enron sangatlah besar. Berbeda dengan profesi lainnya, auditor independen bertanggung jawab memberikan assurance services. Sementara manajemen, dibantu oleh para pengacara, penasihat keuangan, dan konsultan, menyajikan informasi keuangan, akuntan publik bertugas menilai apakah informasi keuangan itu dapat dipercaya atau tidak. Laku-tidaknya informasi tentang kinerja suatu perusahaan sangat bergantung pada hasil penilaian akuntan publik itu. Kata “publik” yang menyertai akuntan menunjukkan bahwa otoritasnya diberikan oleh publik dan karena itu tanggung jawabnya pun kepada publik (guarding public interest). Sementara itu, kata “wajar tanpa pengecualian”, yang menjadi pendapat akuntan publik, mengandung makna bahwa informasi keuangan yang telah diauditnya layak dipercaya, tidak mengandung keragu-raguan. Karena itu, dalam menjalankan audit, akuntan wajib mendeteksi kemungkinan kecurangan dan kekeliruan yang material. Kalau saja auditor Enron bekerja dengan penuh kehati-hatian (due professional care), niscaya manipulasi yang dilakukan manajemen dapat dibongkar sejak dulu dan kerugian yang lebih besar dapat dicegah lebih dini. Buktinya, si pemberani Watskin dengan mudah dapat menemukanmanipulasiitu.
Sebaliknya, hilangnya obyektivitas dan independensi dapat membuat penglihatan auditor menjadi kabur. Penyimpangan (irregularities) dan kecurangan (fraud) akan dianggap sebagai kelaziman. Kegagalan untuk bersikap obyektif dan independen sama artinya dengan hilangnya eksistensi profesi. Membenarkan, bahkan menutupi, perilaku manajemen yang manipulatif jelas-jelas merupakan pengkhianatan terhadap tugas “suci” profesi akuntan publik. Karena itu, sangat wajar jika, dalam kasus Enron auditor paling dipersalahkan karena telah gagal melindungi kepentingan public.

C.    Pembahasan Menurut Syarat Auditor

Prof. Welenaki di dalam buku Sawyers Internal Auditing menyebutkan tujuh syarat, yaitu:

  1. Pekerjaaan itu adalah untuk melayani kepentingan banyak orang (umum)
  2. Bagi yang ingin terlibat  dalam profesi yang dimaksud, harus melalui pelatihan yang cukup lama dan berkelanjutan.
  3. Adanya kode etik dan standar yang di taati didalam organisasi tersebut.
  4. Menjadi anggota dalam organisasi profesi dan slalu mengikuti pertemuan ilmiah yang diselenggarakan oleh organisasi profesi tersebut.
  5.  Mempunyai media masa dan publikasi yang bertujuan untuk meningkatkan keahlian dan keterampilan anggotannya.
  6. Kewajiban menempuh ujian untuk menguci pengetahuan bagi yang ingin menjadi anggota.
  7. Adannya suatu badan tersendiri yang diberi wewenang oleh pemerintah untuk mengeluarkan sertifikat.

Dapat disimpulkan dari tujuh syarat yang di kemukakan Prof. Welenaki di dalam buku Sawyers Internal Auditing sebagai seorang akuntan publik yang profesioanal  bekerja untuk melayani kepentingan umum, Arthur Andersen kurang maksimal menjalankan tugasnya sehingga dia ikut melakukan penyimpangangan antara lain melakukan window dressing, memanipulasi angka-angka laporan keuangan agar kinerjanya tampak baik, pendapatan di-mark-up dengan $ 600 juta, dan utangnya senilai $ 1,2 miliar disembunyikan dengan teknik off-balance sheet. Kurang profesioanal Arthur Andersen dalam melakukan audit  yang hanya mementingkan kepentingan individu, meyebabkan kerugian pada pemegang saham, pemerintah, karyawan dan beberapa pihak yang lain. Hal tersebut telah merusak nama baik akuntan publik yang bertanggungjawab melayani kepentingan umum tersebut.

D.    Pembahasan Menurut Kode Etik Prinsip Prilaku

Kode Etik menurut Prilaku, yaitu

  1. Integritas

Auditor dituntut untuk memiliki kepribadian yang dilandasi oleh sikp jujur, berani, bijaksana dan bertanggung jawab untuk membangun kepercayaan guna member dasr bagi pengambilan keputusan yang handal.

  1. Obyektivitas

Auditor harus menjunjung tinggi ketidak berpihakan professional dalam mengumpulkan, mengevaluasi dan memproses data dan informasi audit. Dan membuat penilaian yang relevan  dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan sendiri atau orang lain.

  1. Kerahasiaan

Auditor harus menghargai nilai dan kepemilikan informasi yang diterimannya dan tidak mengungkapkan informasi yang diterimannya dan tidak mengungkapkan informasi tersebut tanpa otorisasi yang memadai kecuali di haruskan oleh undang-undang.

  1. Kompetensi

Dalam melaksanakan tugasnya dituntut untuk memiliki pengetahuan, keahlian, pengalaman, dan keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas.

Dapat dipahami dalam kasus Arthur Andersen adannya kode etik dan standar yang harus dipatuhi oleh setiap akuntan publik. Arthur Andersen telah melakukan pelanggaran dalam menjalankan tugasnya sebagia auditor.

  1.  Menurut prinsip integritas Arthur Andersen telah melakukan pelanggaran yaitu:

a.       Arthur Andersen tidak menjalankan tugasnya dan telah melanggar prinsip jujur, teliti, bertanggung jawab dan bersungguh-sungguh. Arthur Andersen tidak benar-benar melaporlan laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan Enron. Selain itu Arthur Andersen  tidak bertanggung jawab dengan profesinya dia tidak menjalankan tanggungjawabnya sebagai akuntan publik yang harus memberikan informasi yang sebenar-benarnya. Dalam melaporkan hasil kerjannya Arthur Andersen memanipulasi data-data tersebut.

b.      Arthur Andersen tidak menunjukan kesetian menjalankan tugasnya dalam profesi dan organisasi maupun tidak bisa menjaga citra organisasi akuntan publik. Sebagai seorang akuntan publik Arthur Andersen justru merusak nama baik akuntan publik dan dapat berakibat pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pekerjaan akuntan publik itu sendiri.

c.       Melakukan kegiatan illegal, Arthur Andersen justru ikut melakuakn manipulasi laporan keuangan yang menunjukan bahwa Perusahaan Enron meninggikan pendapatan dan mengecilkan utang. Agar banyak investor yang bersedia menanamkan modal di perusahaan Enron. Arthur Andersen menerima keuntungan financial yang di berikan oleh perusahaan Enron dan merugikan banyak pihak.

d.      Arthur Andersen melakukan pemusnahan terhadap ribuan surat elektronik dan dokumen lain yang berhubungan dengan audit perusahaan Enron.

  1. Menurut prinsip Obyektifitas Arthur Andersen telah melakukan pelanggaran yaitu:

a.       Arthur Andersen tidak mengungkapkan semua fakta material yang di ketahuinnya, yang mengakibatkan berubahnya laporan kegiatan yang diaudit.

b.      Arthur Andersen memilki hubungan lain dengan Perusahaan Enron selain sebagai seorang auditor. Sehingga dalam melakukan penilaian terhadap Laporan Keungan Perusahaan Enron Arthur Andersen memihak kepada Perusahaan Enron.

c.       Arthur Andersen menerima pemberian dari Perusahaan Enron yang terkait dengan keputusan dalam melakukan pengauditan.

  1. Menurut prinsip Kompetensi Arthur Andersen telah melakukan pelanggaran yaitu:

a.       Arthur Andersen tidak melaksanakan tugas pengawasannya sesuai dengan standar audit. Arthur Andersen banyak melakukan penyimpangan yang tidak sesuai dengan standar audit yang di tetapkan di AS yang menerapkan standar transparansi dan pembeberan (disclosure) bagi perusahaan public.

b.      Bukannya melakukan penolakan terhadap penyimpagan yang dilakukan tetapi Arthur Andersen justru terlibat didalam manipulasi laporan keuangan yang dilakukan Perusahaan Enron.

Dalam kasus ini dari prinsip-prinsip prilaku  yang harus dilakukan auditor banyak dilanggar oleh Arthur Andersen. Memang Arthur Andersen perlu mendapatkan pelajaran yang setimpal dengan apa yang telah dilakukannya. Dengan penegakan disiplin atas pelanggaran kode etik profesi dapat menjadi tindakan yang positif agar ketentuan tersebut dapat dilaksanakan dengan konsisiten. Pada kegiatan audit banyak melalui proses adminitrasi dapat dilihat kemungkinan Arthur Andersen juga melibatkan banyak pihak untuk kelancaran penyimpangan yang dilakukan.

E.     Pembahasan Menurut Standar Menjadi Auditor

  1. Standar umum
    • Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor.
    • Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.
    • Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.
    • Standar pekerjaan lapangan. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.
    • Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh unutk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
    • Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keungan yang diaudit.

    2.     Standar pelaporan

    • Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di suatu negara.
    •  Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
    • Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.
    •  Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh auditor.

Dilihat dari standar umum menjadi seorang akuntan publik Arthur Andersen telah menjadi seorang auditor yang dapat digunakan jasannya. Namun dalam kenyataannya Arthur Andersen di ragukan independensinya, dan dengan mental yang kurang baik untuk mengatasi godaan yang terdapat dalam pekerjaannya sehingga dia melakukan penyimpangan yang merusak citrannya sebagai seorang akuntan publik. Arthur Andersen dalam membuat laporannya dia menggunakan kemahirannaya yang dia salah gunakan untuk penyimpangan dengan memanipulasi hasil kerjannya agar perusahaan Enron memiliki reputasi bisnis yang baik dan mendapatkan investor yang banyak dan tabungan karyawan. Hal tersebut disalah gunakan oleh manajer perusahaan untuk menanamkan modal ke perusahaan lain demi kepentingan pribadinnya.

Dilihat dari standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan menjadi seorang akuntan publik Arthur Andersen apa yang dilakukannya  dan perusahaan Enron terkuak karena  Sherron Watskin, salah satu eksekutif Enron yang tidak tahan dengan manipulasi ini membongkar seluruh kejadian yang dilakuakn oleh Perusahaan Enron dan auditor perusahaan tersebut. Dalam standar pelaporan Arthur Andersen tidak menyatakan secara benar apa yang terjadi pada perusahaan Enron. Arthur Andersen njustru membuat laporan yang berisi tentang kebalikan dari keadaan yang sebenarnnya. Bahkan kemungkinan yang ada bahwa yang membuat laporan keuangan palsu tersebut  adalah Arthur Andersen.

BAB III

PENUTUP

 A.    Kesimpulan

            Jasa Akuntan Publik adalah suatu profesi yang sangat penting bagi suatu perusahaan apalagi perusahaan yang telah melibatkan banyak investor di dalamnya. Peran akuntan Publik dapat berupa sebagai external auditor yang memberikan opini tentang kewajaran suatu laporan keuangan yang nantinya dapat digunakan sebagai tolak ukur bagi investor dan public yang ingin melihat kinerja suatu perusahaan. Oleh sebab itu Peran akuntan public diharapkan dan sudah seharusnya bersifat Independent tanpa memiliki kepentingan apapun atas hasil kerjanya.

Akuntan publik harus mematuhi kode etik yang ada agar pekerjaan yang dilaksanakannya dapat dipercaya masyarakat. Akuntan public harus melakukan pekerjaannya secara professional. Kasus Arthur Andersen dapat kita jadikan pelajaran agar suatu saat jika kita terjun ke dunia audit, kita tidak melakukan kesalahan yang sama yaitu melakukan banyak manipulasi sehingga merugikan banyak orang.

B.     Saran

Diharapkan dengan adanya pembuatan makalah ini dapat mengetahui bagaimana akuntan publik saat ini. Pembuatan makalah ini tentu ada banyak kekurangan dalam pembahasan kasus, tentunya diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca dan tentu ada tambahan materi yang sebelumnya belum diketahui. Pemahaman menjadi akuntan publik yang baik tentu sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari jika kita berkedudukan sebagai akuntan publik sehingga dapat menjaga profesionalisme sebagai seoarang akuntan publik.