PENGERTIAN KURIKULUM


Berdasarkan studi yang telah dilakuakan oleh banyak ahli maka disimpulkan bahwa pengertian kurikulum dapat ditinjau dari dua sisi yang berbeda, yakni menurut pandangan lama dan pandangan baru.
Pandangan lama atau sering disebut pandangan tradisional, merumuskan bahawa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh murid untuk memperoleh ijasah. Menurut pandangan tersebut berimplikasi sebagai berikut:
1. Kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran.
2. Mata pelajaran adalah sejumlah informasi atau pengetahuan, sehingga penyampaian mata pelajaran pada siswa akan membentuk mereka menjadi manusia yang mempunyai kecerdasan berfikir.
3. Mata pelajaran menggambarkan kebudayaan masa lampau.
4. Tujuan pembelajaran mata pelajaran adalah untuk memperoleh ijasah.
5. Adanya aspek keharusan bagi setiap siswa untuk mempelajari mata pelajaran yang sama.
6. Sistem penyampaian yang digunkan oleh guru adalah sistem penuangan (imposisi). Sehingga guru lebih bersifat aktif, sedangkan siswa hanya bersifat pasif.
Secara pandangan modern yang dikemukakan oleh Romine (1954), yang mesebagai miliki implikasi sebagi berikut:
1. Tafsiran tentang kurikulum bersifat luas, karena kurikulum bukan hanya terdiri dari mata pelajaran tetepi meliputi semua kegiatan dan pengalam yang menjadi tanggung jawab sekolah.
2. Sesuai dengan pandangan ini, berbagai kegiatan diluar kelas sudah tercakup dalam pengertian kurikulum.
3. Pelaksanan kurikulum tidak hanya dibatasi pada keempat dinding kelas, melainkan dilaksanaakan baik di dalam maupun di luar kelas, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
4. Sistem penyampaian yang dipergunakan oleh guru disesuiakan dengan kegiatan atau pengalaman yang akan di sampaikan. Oleh karena itu guru harus melakukan berbagai kegiatan belajar-mengajar yang bervariasi sesuai dengan kondisi siswa.
5. Tujuan pendidikan bukanlah untuk menyampaikan mata pelajaran (courses)atau bidang pengetahuan yang tersusun (subject)melainkan pembentukan pribadi anak dan belajar cara hidup di dalam masyarakat.
B. Macam-macam pandangan mengenai kurikulum:
1. Kurikulum Sebagi Suatu Progaram Kegiatan yang Terencana
Berdasarkan pandangan komprehensif terhadap setiap kegiatan yang direncanakan untuk dialami seluruh siswa, kurikulum berupaya untuk menggabungkan ruang lingkup, rangkaian, interpretasi, keseimbangan subject matter, teknik mengajar, dan hal lain yang dapat direncanakan sebelumnya (Saylor, Alexsander, dan Lewis, 1986). Pada hakekatnya, kurikulum sebagai suatu program kegiatan terencana(program of planned activities) memiliki rentang yang cukup luas, sehinggamembentuk suatu pandangan yang menyeluruh. Di suatu pihak kurikulum dipandang sebagai suatu dokumen tertulis (Beauchamp, 1981)dan di lain pihak, kurikulum dipandang sebagi rencana tidak tertulis yang terdapat dalam pikiran pihak pendidik ( Taylor, 1970)
2. Kurikulum Sebagai Suatu Hasil Belajar yang Diharapkan
Beberapa penulis kurikulum menyatakan bahwa kurikulum seharusnya tidak dipandang sebagi aktivitas, tetapi difokuskan secara langsung pada berbagi hasil belajar yang diharapkan. Kajian ini menekankan perubahan cara pandang kurikulum dari kurikulum sebagai alat menjadi kurikulum sebagai tujuan atau akhir yang akan dicapai. Alasan utamanya adalah karena hasil belajar yang diharapkan merupakan dasar bagi perencanaan dan perumusan berbagi tujuan kegiatan pembelajaran.
3. Kurikulum sebagai Reproduksi Kultural (Cultural Reproductioan)
Sebagian ahli pendidikan berpandangan bahwa kurikulum dalam setiap masyarakat atau budaya seharusnya menjadi refleksi dari budaya masyarakat itu sendiri. Sekolah bertugas memproduksi pengetahuan dan niali-nilai yang penting bagi generasi penerus. Masyarakat, negara atau bangsa bertanggaungjawab mengidentifikasikan keterammpilan (skill), pengetahuan (knowledge) dan berbagi apresiasi yang akan diajarkan. Sementara itu, pihak profesioanal bartanggung jawab untuk melihat apakah skill, knowledge, dan apresiasi tersebut sudah ditransformasikan kedalam kurikulum yang dapat disampaikan kepada anak-anak dan generasi muda. Awalnya, model kurikulum ini dikembangkan pada masyarakat industri. Model pengembangan kurikulum semmacam ini lebih dikenal sebagi model kurikulum berbasis masyarakat atau curriculum-based (CBC)
4. Kurikulum sebagi Kumpulan Tugas dan Konsep Diskrin
Pandanagn ini berpendapat bahwa kurikulum merupakan satu kumpulan tugas dan konsep (discrete and concept) yang harus dikuasi siswa. Disaumsikan bahwa penguasaan tugas-tugas yang saling bersifat diskrit (berdiri sendiri) tersebut adalah untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah dititipkan sebelumnya. Biasanya tujuan tersebut dimaksudkan memiliki interpretasi bahavioral yang spesifik. Program ini berkembang dari program-progaram training dalam bisnis, industri dan kemiliteran.
5. Kurikulum sebagi Agenda Rekonstruksi Sosial
George S. Counts (1932) merupakan seorang perintis rekonstruksionalisme sosial dalam pendidikan. Berawal dari bukunya yang berjudul β€œSejauh mana keb eranian sekolah membangun suatu tatanan sosila yang baru (dare the school build a new socila order)? Ide counts banyak diperjuangkan oleh Theodore Brameld dalam dekade 1940-an dan 1959-an, yang banyak terinspirasi pemikiran Dewey. Pandangan ini berpendapat bahwa sekolah harus mempersiapkan suatu agenda pengetahuan dan nilai-nilai yang diyakini dapat menuntun siswa memperbaiki masyrakat dan institusi kebudayaan, serta berbagai keyakinan dan kegiatan praktik yang mendukungnya.